Hindari Prasangka Buruk

SIFAT

Kecintaan kepada shalat memenuhi hati seorang muslim, ia konsekuen mendirikannya kapan dan dimanapun mereka berada. Dan tatkala mereka tertimpa musibah yang telah ditakdirkan baginya seperti sakit dan lainnya, mereka tak pernah lupa dan lalai melaksanakan shalat. Allah Swt juga memberikan kemudahan bagi mereka dalam hal bertaharah, cara mengerjakan shalat dan berpuasa. Hal ini merupakan salah satu bukti kasih sayang dan fleksibilitas syari’at Allah Swt.

﴾Hindari Prasangka Buruk ﴿

Oleh: Ustadz Supriadi Yosup Boni

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لله نُحَمِّدُهُ ونستعينه وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنَفْسُنَا وَسَيِّئَاتِ أَعُمَّالَنَا ، مِنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمِنْ يُضَلِّلُهُ فَلَا هَادِي لَهُ ، أَشُهْدَ أَنْ لَا إله إلّا اللهَ وَحْدِهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدَ أَنْ مُحَمَّدَا عَبْدَهُ وَرَسُولَهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [آل عمران: 102]

يأيها النَّاسَ اِتَّقَوْا رَبَّكُمْ الَّذِي خلقَكُمْ مِنْ نَفْسُ واحدَةً وَخلقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رُجَّالَا كَثِيرَا وَنَسَّاءَ وَاِتَّقَوْا اللهَ الَّذِي تُسَاءَلُونَ بِهِ والأرحام إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيكُمْ رَقيبَا . يأيها الَّذِينَ آمنوا اِتَّقَوْا اللهَ وَقَوَّلُوا قَوَّلَا سَدِيدَا يُصْلِحُ لَكُمْ أَعُمَّالَكُمْ وَيَغْفَرُ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمِنْ يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوَّزَا عَظِيمَا . أَلَا فَإِنَّ أَصدقَ الْحَديثِ ‹ كِتَابَ اللهِ وَخَيِّرَ الْهَدْي هَدَّي مُحَمَّدَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيه وَسَلْمَ وَشَرَّ الأمور مُحْدَثَاتِهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةً فِي النَّارِ. اللَّهُمَّ فَصْلِ وَسَلْمَ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيمِ وَعَلَى آله وأصحابه وَمِنْ تَبِعَهُمْ بإحسان إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَا بَعْدَ .

قَالُ اللهِ تَعَالَى(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ )[الحجرات: 12]

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala ….

Puji dan syukur hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah satu-satu-Nya Dzat yang berhak menerima segala pujian dan ungkapan syukur. Karunia dan rahmat-Nya telah banyak kita nikmati, hidayah dan inayah-Nya telah banyak kita rasakan. Kesyukuran hakiki hanya dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Tanpa itu maka kita termasuk orang-orang yang ingkar nikmat.

Salam dan shalawat kita sampaikan dan kirimkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi yang telah memperjuangkan agama Islam di waktu siang dan malam, di kala sempit dan lapang. Dia mendakwahkan Islam tanpa mengenal ruang dan waktu. Dia telah menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya. Hingga ia meninggalkan umat ini dalam keadaan telah tercerahkan dengan nur hidayah, dan cahaya taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah seseorang meniti jalan lain melainkan ia akan menjadi sesat di dunia dan binasa di akhirat.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah ….

Membangun komunikasi dan menjalin hubungan dengan orang lain menjadi keharusan dalam kehidupan seorang di dunia ini. Terlebih lagi bagi seorang Muslim yang berprofesi sebagai duta dan dai kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu ia harus membangun komunikasi dengan orang lain. Namun perlu disadari bahwa membangun hubungan yang sinergi dan harmonis tak semudah membalikkan kedua telapak tangan. Memerlukan ketulusan niat, kelapangan dada, dan fleksibiltas yang tinggi. Hubungan harmonis mengharuskan seseorang membersihkan hatinya dari semua penyakit-penyakit hati seperti iri, dengki, hasad dan lainnya. Wajah yang berseri, senyuman yang tulus dan sikap pemaaf sangat berperan besar dalam mengharmoniskan hubungan antar sesama hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Prasangka buruk terhadap sesama termasuk batu sandungan yang besar dalam menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Ia seharusnya tidak diberi ruang sekecil apapun dalam hati setiap pribadi Muslim. Sebab kemunculannya tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali perselisihan dan pertengkaran yang tak berujung.

Jamaah Jum’at yang berbahagia ….

Seorang yang memperhatikan dan merenungi realita hubungan dan komunikasi antar sesama kaum Muslimin dewasa ini, pasti akan merasa bersedih dan prihatin karena hubungan komunikasi yang telah terputus dan tali persaudaraan pun telah tercerai-berai. Seluruhnya disebabkan oleh kumpulan prasangka, keraguan, kekhawatiran dan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar. Berapa banyak majelis-majelis ilmu atau pertemuan-pertemuan yang berubah menjadi majelis ghibah, materi kajiannya berpusat pada fulan mengatakan ini, berbuat ini... Fulan melakukan itu… Semuanya hanya didasarkan pada prasangka belaka. Sebagai bukti, ketika sang penceramah ditanya tentang keotentikan informasi yang disampaikannya, jawabannya selalu mengatakan, “oh iya nanti saya coba mencari informasi lebih jauh.” Atau dikatakan, “Oh iya nanti saya cek kembali kebenaran informasinya.”

Bermula dari prasangka buruk, lalu berkembang menjadi tuduhan dusta, dilanjutkan dengan upaya mencari-cari kesalahan orang lain, berakhir dengan ghibah, ditutup dengan hujatan, cercaan dan makian. Allahu Al-musta’an, berapa banyak terminAl-terminal dosa yang diciptakan oleh prasangka buruk. Hasil yang dipetik dari prasangka buruk berupa pola komunikasi yang terbangun di atas pondasi kedustaan, serang menyerang tudingan, redupnya rasa saling percaya antar sesama, kebencian, permusuhan dan saling memboikot menjadi hal yang lumrah dan biasa. Padahal kesemuanya itu menjadi faktor-faktor yang melemahkan kaum Muslimin dan menghilangkan wibawa mereka di hadapan umat-umat lain. Tidak heran jika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan berprasangka buruk terhadap orang lain dan menggolongkannya sebagai perbuatan dosa. Friman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ) [الحُجُرات:١۲]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujuraat: 12)

Ayat di atas berisi seruan bagi kaum Muslimin untuk saling menjaga harga diri mereka, dan tidak memberikan peluang sedikit pun bagi prasangka buruk bercokol dalam hati. Seorang mukmin tidak pantas merobek-robek harga diri dan kehormatan orang lain hanya karena sebuah prasangka atau isu yang beredar. Diriwayatkan oleh Abdul Razzaq dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Mushannaf nya menyebutkan etika standar yang wajib disadari oleh setiap Muslim agar tercipta sebuah masyarakat yang harmonis. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكذبَ الْحَديثِ ، وَلَا تَحَسَّسُوا ، وَلَا تَجَسَّسُوا ، وَلَا تَحَاسَدُوا ، وَلَا تُدَابِرُوا ، وَلَا تَبَاغَضُوا ، وَكَوَّنُوا عِبَادَ اللَّهِ إخوانا

“Hindarilah oleh kalian prasangka buruk, sebab ia termasuk kedustaan besar, janganlah kalian saling menyindir, saling mencari-cari kesalahan, saling memendam rasa dendam, saling berselisih, dan saling bertengkar, namun jadilah kalian orang-orang yang bersaudara.”

Sekali lagi, prasangka buruk tidak akan memberikan sesuatu yang positif walau sekecil apapun. Bahkan sebaliknya memicu lahirnya sikap permusuhan, perselisihan, memutuskan hubungan yang baik, meretakkan ikatan kekeluargaan, dan menghancurkan solidaritas dan persaudaraan sesama kaum Muslimin.

Orang-orang yang mengikhlaskan dirinya menjadi korban prasangka buruk senantiasa akan terjerembab ke dalam perbuatan dosa yang tak terbatas. Sebab satu perbuatan dosa akan mengundang dan memaksa pelakunya untuk melakukan perbuatan dosa yang lain, hukuman akhiratnya pun akan semakin berat. Coba kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini,

(إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آَمَنُوا يَضْحَكُونَ 29 وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ30 وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ 31وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلَاءِ لَضَالُّونَ 32 وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ 33 فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ 34 عَلَى الْأَرَائِكِ يَنْظُرُونَ 35 هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ 36)[المطففين:29-36]

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan, “sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Al-Muthaffifiin: 29-36)

Ulama tafsir mengatakan, “Orang-orang yang dianggap oleh orang-orang musyrik sebagai orang-orang jahat adalah mereka yang menyatakan keislaman dan keimanan mereka. Mereka menghina kaum Muslimin dan menganggap mereka tidak pantas mendapatkan kenikmatan dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi di kehidupan akhirat kelak, orang-orang beriman yang telah menjadi penduduk surga diberikan kesempatan untuk membalas ejekan dan olok-olokan orang-orang musyrik dengan ejekan dan olokan yang sama.

Jamaah Jum’at yang berbahagia ….

Sebagian ulama mengatakan, “prasangka yang wajib dihindari oleh setiap Muslim adalah semua prasangka yang dialamatkan kepada seseorang yang tidak bermaksiat secara terang-terangan tanpa didukung oleh indikasi-indikasi yang kuat atau petunjuk-petunjuk hukum yang jelas. Namun bagi mereka yang membanggakan diri dengan lumuran dosa dan kemaksiatan, maka prasangka buruk yang dialamatkan kepada mereka tidak termasuk prasangka yang diharamkan.”

Said ibnu Al-Musayyib berkata, “saya menulis sebuah nasihat kepada beberapa sahabat yang isinya berupa ajakan untuk menghukumi orang lain berdasarkan keadaan terbaik baginya selama tidak ada pelanggaran yang jelas. Dan jangan kalian menghukumi orang lain hanya dengan satu kalimat yang berbau pelanggaran, selama ucapan tersebut dapat dipahami dengan cara yang baik.”

Sebuah nasihat yang sangat mulia. Terutama dalam menyikapi sebuah pandangan hukum yang diucapkan oleh mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang menjaga diri dari pelanggaran agama secara terang-terangan. Disampaikan Ibnu Qayyim dengan tegas dalam sebuah perkataannya, “sebuah kata kadang memiliki konsekuensi hukum yang berbeda jika disebutkan oleh dua orang yang berbeda pula. Salah seorang meniatkan kebaikan dan yang lain menginginkan keburukan. Dalam menentukan status hukum kata tersebut dapat dilakukan melalui pendekatan track record sumber dan biografi orang yang menyebutkannya.”

Sebuah contoh yang sangat brilian diperlihatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tatkala ia mengomentari sebuah perkataan yang diucapkan oleh mereka yang berbeda pendapat dengannya. Ia berkata, “ungkapan ini masih bersifat general (umum), orang yang lurus niatnya akan memahami dan membawanya ke arah yang positif, sedang yang lain memahaminya dengan cara yang keliru.”

Sikap Ibnu Taimiyah tersebut menggambarkan objektivitas dan sportivitas yang tinggi. Ia jauh dari pretense pribadi, dan tidak serta merta menghukumi perkataan orang lain berdasarkan pemahaman dan penafsiran personalnya. Ini hanya gambaran kecil dari kehidupan ulama yang mengikuti manhaj salaf.

Manhaj salaf shalih tidak menakwilkan salah perkataan orang lain, tidak pula menafsirkan ucapan orang lain dan menghukuminya berdasarkan pemahaman pribadi, apalagi merasa bergembira ketika melihat kaum Muslimin yang lain terjatuh ke lembah kekeliruan dan dosa atau memiliki pola interaksi tak terpuji dengan pihak luar. Al-Qala’i berkata, “kadang sebuah kata yang terucap terasa kasar namun menyimpan segudang kecintaan. Kadang pula seseorang mengucapkannya karena keterpaksaan, seperti budaya Arab jika mereka terusik oleh sebuah urusan yang memicu munculnya emosi, mereka berkata, la aba laka (bapakmu semoga lekas tiada), atau qaatalahullah (semoga ia cepat mati aja) atau wailun ummuhu (celakalah ibunya) dan ungkapan lainnya. Mereka tidak berniat mencaci atau memaki orang lain, namun kata tersebut sudah menjadi kebiasaan mereka. Karena itu seseorang yang mendengarkan ucapan-ucapan yang secara zhahir-nya kasar, hendaknya menengok siapa yang mengucapkannya. Kalau sekiranya orang itu dikenal sebagai orang baik-baik, maka tidak boleh dipahami secara negatif. Sebaliknya jika orangnya adalah orang jahat maka ucapan manisnya pun kadang mengandung racun.”

Membesar-besarkan kesalahan orang lain merupakan salah satu bentuk prasangka buruk. Demikian pula melancarkan tuduhan-tuduhan keji kepadanya tanpa menganalisa sebab-sebab orang tersebut melakukan kesalahan. Seperti yang diketahui, setiap ucapan yang kita dengar memiliki dua penafsiran, penafsiran positif dan penafsiran negatif. Mendahulukan prasangka baik terhadap sesama, tidak menerka-nerka niat dan maksud terselubung pelaku, serta menghukum orang berdasarkan prilaku yang zhahir menjadi kewajiban kita sebagai seorang Muslim.

Abdul Razzaq dalam Mushannaf-nya menulis sebuah riwayat dari Abdullah Ibnu ‘Utbah Ibnu Mas’uud ia berkata, saya mendengar Umar ibnu Al-Khattab berkata, “kesalahan manusia di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa dinilai dan dihukum dengan perantaraan wahyu, dan sekarang wahyu telah berhenti, sehingga seseorang akan dinilai dan dihukum berdasarkan perilaku yang tampak darinya. Jika ia berbuat baik maka kita percaya kepadanya dan mendukung perilakunya, dan tidak ada hak bagi orang lain untuk menebak-nebak niat dan maksudnya. Sebaliknya barangsiapa yang memperlihatkan perilaku buruk maka kita tidak mempercayainya dan tidak pula mendukungnya.”

Karena itu, sepatutnyalah setiap pribadi senantiasa melakukan muhasabah (introspeksi) dan mawas diri terhadap setiap kata yang diucapkan atau setiap hukum yang ditetapkan bagi orang lain. Ingatlah selalu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا) [الإسراء: 36]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Israa’: 36)

بَارُّكَ اللهَ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآن الْكَرِيمَ وَنَفِّعِنَّي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيه مِنْ الآيات وَالذّكرَ الْحَكِيمَ وَتَقَبُّلَ مِنْي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّه هوالسميع الْعَلِيمَ . أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلَّ ذَنْبٍ ، فَاِسْتَغْفِرُوهُ إِنَّه هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

الْحَمْدُ للهِ عَلَى إحسَانِهِ ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وَأُشْهِدُ أَنْ لَا إلهَ إلّا اللهُ وَحَدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمَا لِشَأنِهِ ، وَأُشْهِدُ أَنْ مُحمَداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رضوانِهِ . اللَّهُمُّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى هَذَا النَّبِي الْكَرِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمِنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ . أَمَا بَعْدَ .

Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia …

Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya prasangka buruk dalam hati seseorang. yang terpenting adalah lingkungan yang buruk dan tidak baik, termasuk lingkungan rumah tangga, teman sejawat atau para penyembah hawa nafsu. Berapa banyak orang yang dulunya berkarakter baik dan terpuji akan tetapi berubah menjadi penjahat akibat pengaruh lingkungan keluarga dan pertemanan. Tidak jarang kita dengarkan orang yang dulunya sangat taat menunaikan kewajiban-kewajibannya namun akibat lingkungan tempat tinggal, lingkungan kerja menjadikannya orang yang paling jauh dari syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti kita dalam mencari teman dan sahabat, karena kualitas keberagamaan seseorang akan dipengaruhi oleh kualitas keberagamaan sahabatnya.

Jika prasangka buruk memiliki faktor pemicu, maka ia pun memiliki penawar dan obat yang dapat menghilangkannya. Setidaknya ada dua hal yang perlu kita perhatikan:

Pertama, mendahulukan prasangka baik. Umar Ibnu Al-Khattab berkata, “jangan engkau berprasangka buruk terhadap setiap kata yang diucapkan oleh saudaramu, selama masih memungkinkan untuk memahaminya dengan positif.”

Kedua, mencari alasan-alasan positif bagi orang lain saat mereka melakukan kekeliruan. Kecuali dalam hal-hal yang telah jelas keharamannya. Tinggalkan upaya mencari-cari kesalahan orang lain.

Kedua obat inilah yang diharapkan mampu mengobati penyakit prasangka buruk jika telah bercokol dalam hati. Khatib berharap semoga kita senantiasa mendapatkan bimbingan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga kita tetap konsisten berjalan di atas jalannya sampai ajal menjemput kita.

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala….

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِل (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

(وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ) [آل عمران: 8]

( رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )[البقرة: 201]

عباد الله (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ) [النحل: 90]

اِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ

.