Indahnya Hidup di Bawah Naungan Sabar dan Syukur

SIFAT

Sabar dan syukur adalah dua pilar iman yang akan mengantarkan kita sebagai hamba Allah yang paling mengagumkan.

Oleh: Ustadz Muhammad Irfan Zain, Lc

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )[آل عمران: 102]

((يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )[النساء: 1]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 71)[الأحزاب: 70-71]

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

(وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ58 يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ )

Kaum Muslimin yang berbahagia…

Topik pembicaraan kali ini adalah masalah yang banyak menjadi buah bibir dan pemikiran berbagai kalangan dari dulu hingga saat ini. Sebuah topik yang karenanya Islam dan orang-orang yang komitmen dengan Islam dituduh sebagai agama dan orang-orang terbelakang, dan berbagai tuduhan keji lainnya. Topik ini pula yang dijadikan oleh orang-orang zhalim dan para penebar kerusakan sebagai batu loncatan dalam upaya mereka menebar kesesatan dan mencegah orang-orang dari ajaran yang mulia ini. Topik tersebut tidak lain adalah wanita, peran, dan kedudukannya dalam pandangan Islam.

Kaum Muslimin yang berbahagia…

Untuk mengetahui sejauh mana Islam memuliakan kaum wanita, tentu kita harus mengetahui terlebih dulu bagaimana perlakuan orang-orang jahiliyah dan umat-umat terdahulu terhadap wanita sebelum datangnya Islam.

Wanita di masa jahiliyah adalah sosok yang dipinggirkan dan tidak dihargai. Hal itu digambarkan dengan rasa malu yang melingkupi mereka ketika dikaruniai seorang anak wanita. Malu, penyesalan, dan kebencian, yang selanjutnya digambarkan oleh Allah lewat firman-Nya,

(وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ58 يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ ) [النحل: 58-59]

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan ia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya (hingga ia pun berpikir) haruskah dia memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58-59)

Jamaah yang dirahmati Allah…

Tetapi ketika ada di antara mereka yang membiarkan anak-anak perempuan hidup hingga dewasa, mereka dihina, dieksploitasi dan dijadikan sebagai harta waris setelah suaminya meninggal. Hal itu disampaikan oleh Imam Bukhari, yang diriwayatkannya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma,

“كَانُوا إذاً ‹ مَاتَ الرَّجُلُ ‹ كَانَ أولياؤه أَحَقَّ بإمرأته ، إِنَّ شَاءَ بَعْضُهُمْ تَزَوُّجَهَا ، وَإِنَّ شَاءَوْا زَوَّجُوهَا ، وَإِنَّ شَاءَوْا لَمْ يُزَوَّجُوهَا فَهُمْ أَحَقَّ بِهَا مِنْ أَهَلِّهَا ، فَنَزَّلَتْ: (أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا) [النساء: 19] “Dahulu jika seorang suami meninggal maka keluarga sang suami adalah yang paling berhak atas sang istri daripada keluarga sang wanita itu sendiri. Apabila di antara mereka ingin menikahinya, maka ia akan melakukannya. dan bila mereka ingin menikahkannya, maka mereka pun berkuasa untuk melakukannya. Demikian hal itu terus berlangsung hingga Allah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa.” (An-Nisaa’: 19)

di masa jahiliyah, orang-orang menikahi wanita dengan jumlah yang tidak terbatas, dan memperlakukan mereka secara tidak manusiawi. Namun ketika Islam datang, diharamkanlah berpoligami lebih dari empat, dan bolehnya berpoligami itu pun dibatasi dengan syarat kemampuan berlaku adil kepada seluruh istri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا)

[النساء: 4]

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” (An-Nisaa’: 4)

Di masa jahiliyah, wanita-wanita yang ditinggal wafat oleh suaminya tetap berstatus sebagai istri, dan tidak boleh keluar dari rumahnya selama setahun. Kedatangan Islam yang menghapuskan aturan itu menjadi berkah dan pembelaan terhadap hak-hak asasi mereka sebagai manusia. di sisi lain, seorang laki-laki di masa jahiliyah, bebas mentalak (mencerai) dan rujuk kembali dengan istrinya sebelum tiba batas ‘iddah-nya. Hingga datanglah Islam yang membatasi talak raj’i (talak yang masih memungkinkan bagi suami untuk rujuk) hingga dua kali talak.

Demikianlah jamaah sekalian, gambaran kehidupan wanita di masa jahiliyah sebelum datangnya Islam. Mereka termarginalkan dan tidak dimanusiakan. Namun setelah kedatangan Islam, mereka pun terselamatkan, dimuliakan, dijamin hak-haknya, dan diangkat kedudukannya setara dengan laki-laki dalam syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )[النحل: 97]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

(إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا) [الأحزاب: 35]

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim,laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab: 35)

Allah melebihkan kaum lelaki atas kaum wanita pada beberapa keadaan dan hikmah tertentu, seperti dalam masalah waris, saksi, kepemimpinan, talak dan beberapa masalah lainnya. Allah berfirman,

(الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ) [النساء: 34]

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (An-Nisaa’: 34)

Hadirin sekalian yang dirahmati Allah…

Islam memberikan hak waris bagi wanita yang tidak mereka terima di zaman jahiliyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا )[النساء: 7]

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi orang perempuan ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (An-Nisaa’: 7)

Hak kepemilikan mereka (kaum wanita) pun diakui dalam Islam, demikian juga hak bersedekah dan memerdekakan budak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ) )الأحزاب:٣۵(

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang bersedekah (Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar).” (Al-Ahzab: 35)

Islam memberikan kebebasan kepada wanita untuk memilih pasangan hidupnya. Islam menjaga mereka dari gangguan tangan-tangan usil dan dari pandangan-pandangan khianat yang ingin menghancurkan kehormatan diri mereka. Islam memuliakan wanita sebagai seorang ibu, istri, kerabat dan saudara seiman. Mereka mulia dengan segala aktivitasnya, baik sebagai ibu rumah tangga atau ketika mereka bekerja di luar rumah karena adanya hajat dan dengan tetap menjaga norma dan ketentuan agama, seperti mengenakan busana Muslimah, tidak berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya dan tidak melakukan safar kecuali dengan mahram.

Demikianlah kedudukan wanita di dalam Islam, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara khusus telah berwasiat ketika melaksanakan haji wada’ agar senantiasa menjaga wanita, “Bertakwalah kepada Allah dengan menjaga secara baik para wanita.”

Hadirin yang berbahagia…

Pantaskah setelah penjelasan ini, seorang yang berakal sehat menuduh Islam sebagai agama yang menghinakan, merendahkan dan mendiskriminasikan perempuan? Karena itu, wajiblah takut kepada Allah, mereka yang gemar membantu musuh-musuh Allah dengan menebarkan isu-isu miring yang sengaja dilontarkan oleh musuh-musuh Allah untuk merusak citra Islam.

Coba kita bandingkan konsep Islam mengenai wanita dengan pendapat orang-orang yang menyatakan bahwa Islam telah mengekang, menzhalimi dan membatasi kebebasan perempuan? Bagaimana mereka memperlakukan perempuan saat ini?

Mereka memperdaya para wanita dengan iming-iming kosong ketenaran, kebebasan, kekayaan, kemewahan, dan berbagai mimpi semu lainnya. Mereka menampilkan wanita-wanita itu dalam berbagai kegiatan dengan busana yang sangat terbuka, bahkan dengan tanpa busana. Mereka tampilkan wanita-wanita itu sebagai artis di televisi, model di cover-cover majalah, pramugari, pelayan restoran, pegawai kantor, dan pembantu di rumah-rumah. Tujuannya adalah eksploitasi. Eksploitasi perempuan untuk kepentingan bisnis dan pemuas hawa nafsu. Mereka menjauhkan para wanita dari tuntunan Islam yang benar. Dengan dalih emansipasi, mereka menuntut para wanita untuk bekerja di luar rumah seperti laki-laki, melakukan safar tanpa harus ditemani mahram, bebas dari pengawasan suami, meski dengan itu semua mereka harus mempertaruhkan keselamatan dan harga dirinya.

Selain itu, mereka juga telah mengharamkan sesuatu yang dihalalkan Allah kepada hamba-Nya. Mereka haramkan poligami yang sesungguhnya memiliki nilai sosial yang sungguh sangat baik, terlebih karena populasi wanita jauh lebih besar daripada populasi laki-laki. Dengan pengharaman ini, lagi-lagi mereka memaksa sejumlah wanita untuk hidup sebagai perawan tua, tidak ada yang menaungi, tidak ada tempat berbagi, tidak ada mediasi untuk menyalurkan hasrat biologis, tidak ada yang menafkahi. Hal demikianlah yang memicu munculnya berbagai penyakit sosial dan berbagai tindak kekerasan serta pelecehan terhadap perempuan.

Demikianlah makar dari musuh-musuh Allah, mereka menjadikan wanita sebagai alat perusak dan penghancur moralitas, akhlak, dan agama. Namun hal yang mengherankan, ternyata dengan kejahatan yang dilakukannya, mereka menganggap dirinya sebagai pejuang hak asasi wanita. Tetapi yang lebih mengherankan, ternyata corong-corong mereka pun ada di tengah-tengah orang yang mengaku Islam.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ

الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin yang berbahagia…

Hendaknya kita semua senantiasa bertakwa kepada Allah dengan menjaga wanita yang merupakan satu di antara amanah terbesar Allah. Kelak, sekecil apapun penyimpangan yang dilakukan, akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah. Sungguh merupakan hal yang memiriskan hati, ketika melihat berbagai pelanggar syar’i yang dilakukan oleh kaum Muslimah. Mereka keluar dengan tidak mengenakan busana Muslimah, cuma mengenakan sekerat busana sempit yang menonjolkan seluruh lekuk tubuhnya.

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Sesungguhnya Allah telah menyediakan pahala yang besar bagi para ibu yang berhasil mendidik dan membina anak-anak wanitanya. Jabir bin Abdillah berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“ مِنْ كَانَ لَهُ ثَلاثَ بُنَّاتٍ يُؤَوِّيهُنَّ ، وَيَكْفِيهُنَّ ، وَيَرْحَمُهُنَّ ، فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجِنَّةَ أَلِبَتَّةِ ، فَقَالَ رَجُلِ مِنْ بَعْضُ الْقُوَّمِ وَاثِنَتَيْنِ يا ‹ رَسُولَ اللهِ ‹؟ قَالَ : وَاثِنَتَيْنِ . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيَّ فِي « الأدب

tiga orang anak wanita yang dengan tekun dan penuh kesabaran dibimbing, dirawat dan dikasihinya, niscaya wajiblah surga baginya. Beberapa orang setelah mendengar hadits ini berkata, ‘Bagaimana jika ia hanya memiliki dua orang anak wanita ya Rasulullah? Rasulullah menjawab, ‘Dua pun demikian.” (HR. Al-Bukhari, dalam Al-Adab)

Sekali lagi, para orangtua hendaknya bertakwa kepada Allah dengan menjaga anak-anak wanita mereka. Didiklah mereka dengan sebaik-baiknya, niscaya mereka akan bahagia di dunia dan di akhirat. Jagalah wasiat Allah dan Rasul-Nya berkenaan dengan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ )[النساء: 34]

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(( إذاً أَتَّاكُمْ مِنْ تَرْضُونَ دَيِّنَهُ وَخلقَهُ فَاِنْكَحُوهُ ، إلّا تَفْعَلُوهُ تَكِنُ فِتَنَةُ فِي الارض وَفَسَادَ كَبِيرِ ، قَالُوا : يا ‹ رَسُولَ اللهِ ‹ وَإِنَّ كَانَ فِيه ، قَالَ : إذاً جَاءَكُمْ مِنْ تَرْضُونَ دَيِّنَهُ وَخلقَهُ فَأَنْكَحُوهُ ثَلاثَ مَرَّاتٍ )) رَوْاهُ الترمذي .

“Apabila seorang yang kamu ridha terhadap agama dan akhlaknya datang meminang anak wanitamu, maka nikahkanlah ia dengannya. Jika kamu tidak melakukannya, niscaya akan timbul fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika si laki-laki itu begini dan begitu?’ Rasulullah kembali mengulang perkataannya sebanyak 3 kali, ‘Apabila seorang yang engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya datang meminang anak wanitamu, maka nikahkanlah ia dengannya.” (HR. At-Tirmidzi)

Jamaah yang dirahmati Allah…

Dari mimbar ini pula, kami berseru kepada para saudariku wanita Muslimah, hendaknya senantiasa komitmen menjalankan agama yang telah memuliakan dan meninggikan kedudukan kalian. Agama yang telah menyelamatkan kalian dari kehancuran dan kebinasaan. Ingatlah selalu kejahatan kemanusiaan yang telah dan tengah dilakukan terhadap Anda hari ini di negara-negara kafir.

Ketahuilah, bahwa kebebasan dan emansipasi yang saat ini selalu didengung-dengungkan, sama sekali tidak membawa kebaikan. Padahal yang baik bagi Anda adalah taat kepada Dzat yang telah menciptakan seluruh alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ )[النحل: 97]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97)

(أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ) [آل عمران: 195]

“Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.” (Ali Imran: 195)

Ingatlah wahai saudariku, betapa Allah telah memuliakan wanita ketika ia taat kepada-Nya dan patuh kepada Rasul-Nya. Demikianlah Khadijah binti Khuwailid Radhiyallahu Anha ketika Allah mengirim salam kepadanya. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu berkata,

أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ r فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْ ، مَعَهَا إِنَاءٌ فِيه إِدَامٌ أَوْ طعامٌ أَوْ شَرَابٌ ، فَإذاً هِي أَتَتْكَ فَاِقْرَأْ عَلَيهَا السَّلاَمَ مِنْ رَبِّهَا ، وَمِنِْي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيه وَلَا نصبَ . أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيَّ وَغَيْرَه .

“Jibril pernah datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebentar lagi Khadijah akan datang membawa sebuah bejana yang berisi makanan, lauk atau minuman. Maka bila ia telah tiba, sampaikanlah bahwa bahwa Allah dan juga saya memberi salam kepadanya. dan berilah kabar gembira padanya bahwa Allah telah menyiapkan baginya sebuah rumah di Surga yang terbuat dari batu permata. Ia tidak akan pernah merasa lelah dan susah di dalamnya.” (HR. Bukhari dan lainnya)

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Dari penjelasan ini diketahui bahwa Islam adalah agama yang mulia, sempurna dan telah memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Tidak satu pun celah dari ajaran agama ini yang memuat satu pun bentuk kezhaliman kepada satupun makhluk. Namun Islam adalah ajaran yang memuliakan dan meninggikan martabat manusia.

Karena itu, wajib bagi setiap ulama untuk menjelaskan dan mensosialisasikan kepada segenap manusia tentang keutamaan Islam, khususnya mengenai masalah kewanitaan sebagaimana pemaparan yang telah disampaikan. Karena sesungguhnya banyak di kalangan wanita yang terjerumus ke dalam lembah hitam yang dimurkai Allah karena ketidaktahuannya terhadap Islam.

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِل (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )

[آل عمران: 8]

(رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) [البقرة: 201]

عبَادُ اللَّهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعِدْلِ والإحسان وإيتاء ذى الْقربى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكِرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكِرُونَ فَاِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ .