Menghindari Sifat Taklid dan Fanatisme Kelompok

SIFAT

“Aku tidak pernah menemukan satu ajaran yang sangat memperhatikan dan menganjurkan terwujudnya persatuan lebih baik dari ajaran Islam. Namun aku pun tak mendapatkan satu umat yang paling rentan dan mudah berpecah belah melebihi umat Islam.”

Oleh: Ustadz Supriadi Yosup Boni

Khutbah Pertama

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) [آل عمران: 102]

يأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا. يأيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما. ألا فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم وشر الأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار. اللهم فصل وسلم على هذا النبي الكريم وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

Hadirin jamaah shalat Jum’at yang berbahagia…

Puji dan syukur hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah satu-satunya Dzat yang berhak menerima segala pujian dan ungkapan syukur. Karunia dan rahmat-Nya telah banyak kita nikmati, hidayah dan inayah-Nya. Kesyukuran hakiki hanya dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan menjalankan semua perintahnya dan menjauhi semua larangannya. Tanpa itu maka kita termasuk orang-orang yang ingkar nikmat.

Salam dan shalawat kita sampaikan dan kirimkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi yang telah memperjuangkan agama Islam di waktu siang dan malam, di kala sempit dan lapang. Dia mendakwahkan Islam tanpa mengenal ruang dan waktu. Dia telah menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh. Ia meninggalkan umat ini dalam keadaan tercerahkan dengan nur hidayah, dan cahaya taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah seseorang meniti jalan lain melainkan ia akan menjadi sesat di dunia dan binasa di akhirat.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah ….

Sebuah ungkapan yang sangat indah, seorang penyair menggambarkan perbandingan antara ajaran Islam dengan realita umat Islam. Penyair itu berkata yang dalam terjemahan bebasnya,

“Aku tidak pernah menemukan satu ajaran yang sangat memperhatikan dan menganjurkan terwujudnya persatuan lebih baik dari ajaran Islam. Namun aku pun tak mendapatkan satu umat yang paling rentan dan mudah berpecah belah melebihi umat Islam.”

Seorang muallaf (orang yang baru memeluk Islam) juga pernah menyindir kaum Muslimin dengan sebuah ucapannya yang mengatakan: “Saya bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memperkenalkan Islam kepadaku sebelum aku berkenalan dengan Umat Islam.”

Kita tersinggung, jengkel berselimut malu mendengar dan membaca dua komentar di atas. Namun kita juga sadar bahwa mereka telah berkata jujur dengan mengungkapkan kebenaran. Ya, tidak ada yang salah dengan kata-kata mereka.

Realitas umat Islam di zaman modern ini sangat memilukan dan memiriskan hati. Betapa tidak, di samping pelanggaran-pelanggaran yang bersifat personal dan dilakukan terang-terangan, ada pula pelanggaran-pelanggaran yang bersifat kolektif atau dosa berjamaah. Mari kita coba melihat lebih dalam, kelompok atau perkumpulan yang dibangun di atas pondasi agama, tidak jarang kita jumpai mereka yang dengan bebas membuat aturan-aturan beragama yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan kadang perkumpulan tersebut hanya dijadikan sebagai kedok untuk mengeruk keuntungan duniawi semata.

Demikian pula kelompok-kelompok kaum Muslimin yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan, sadar atau tidak sadar, mereka malah menjadi corong orang-orang kafir untuk menghembuskan racun dan virus pemikiran yang menyesatkan. Seperti upaya penyatuan agama, seruan untuk melakukan rekonstruksi terhadap nash-nash Al-Qur’an dan hadits, ajakan untuk tidak terikat dengan pemahaman dan penafsiran para ulama terdahulu dan berbagai macam pemikiran sesat lainnya. Mereka menyangka telah melakukan sebuah pencerahan baru dalam Islam sehingga ia dapat berjalan beriringan dengan kemajuan zaman dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Tak ketinggalan kelompok-kelompok yang berbentuk partai politik. Kepentingan partai dan golongan kadang lebih dominan dibandingkan dengan kepentingan agama dan dakwah, bahkan tidak jarang kepentingan partai dan kelompok menyandera atauran-aturan baku dalam ajaran Islam. Semua kepentingan-kepentingan tersebut memicu timbulnya persinggungan dan perselisihan di antara mereka.

Munculnya perselisihan dan perpecahan di antara kelompok umat Islam baik menyebabkan terjerembabnya umat ke dalam lubang masalah yang akut dan besar. Kondisi ini sangat menyenangkan dan menggembirakan musuh-musuh Islam yang sejak dulu sampai sekarang menyusun berbagai macam strategi pelemahan dan perpecahan umat.

Selagi umat Islam masih saling membanggakan antara satu kelompok dengan kelompok-kelompok lain, niscaya kondisi umat yang sakit ini tidak akan pernah tersembuhkan. Sebab persatuan dan kekuatan umat tidak akan terbangun di atas kekuatan satu kelompok saja, tidak pula dengan persaingan, fanatisme kelompok, dan saling merendahkan.

Persatuan dan kekuatan umat hanya dapat diwujudkan dengan berpegang teguh pada ajaran Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman-Nya,

(وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ) [آل عمران: 103]

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali-Imran: 103)

Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala menjamin keselamatan perjalanan orang-orang yang berpegang teguh kepada Ajaran Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا )[النساء: 175]

“Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.” (An Nisaa’: 175)

Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia….

Setiap pribadi Muslim harus berupaya agar menyadari perlunya upaya serius dari berbagai pihak untuk memperbaiki kondisi umat saat ini. Jika tidak maka kehancuran dan kebinasaan menjadi pil pahit yang akan dirasakan oleh umat ini. Pemerintah kaum Muslimin berkewajiban menutup semua celah dan ruang yang dapat menimbulkan perpecahan di kalangan umat dengan membuat regulasi yang ketat dan implementatif.

Kalangan ulama dan cendekiawan bertugas untuk menyadarkan umat, mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah dengan baik dan benar, membuat mereka paham ajaran Islam berdasarkan dalil sehingga tidak membeo dan taklid buta, mengikis dan menghilangkan fanatisme kelompok.

Para orang tua berusaha menjalankan amanahnya sebagai orang tua dengan sebaik-baiknya. Mendidik anak-anak dengan dasar agama dan akhlak mulia, mewujudkan lingkungan keluarga, masyarakat yang kondusif untuk menunjang tumbuhnya generasi Rabbani, melakukan pengawasan yang komprehensif dan kontinyu bagi setiap perilaku generasi mereka.

Para pemuda menjaga diri dan saudara-saudara mereka agar tidak terjerembab ke dalam pelanggaran-pelanggaran agama, sosial dan moral. Giat mempelajari ajaran agama ini melalui membaca, menghadiri pengajian-pengajian, ceramah-ceramah, forum-forum diskusi ilmiah dan berbagai kegiatan positif lainnya.

Jika semua komponen masyarakat Islam sadar akan tanggungjawab dan tugasnya masing-masing lalu menunaikannya dengan baik, maka perpecahan dan perselisihan, sikap taklid buta, fanatisme kelompok dapat dihilangkan dari umat ini. Pada akhirnya kehidupan beragama akan berjalan dengan baik dan normal. Ridha, karunia dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala pun akan melimpah ruah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga eksistensi umat ini dan menjauhkannya dari kehancuran dan kebinasaan. Menjadikan kita sebagai kelompok yang berfungsi sebagai agent of change atau agen perubahan umat ke arah yang lebih baik. Amin.

(وَالْعَصْرِ 1 إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ 2 إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ3) [العصر:1-3]

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3)

بَارُّكَ اللهَ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآن الْكَرِيمَ وَنَفِّعِنَّي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيه مِنْ الآيات وَالذّكرَ الْحَكِيمَ وَتَقَبُّلَ مِنْي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّه هوالسميع الْعَلِيمَ . أَقولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلَّ ذَنْبٍ ، فَاِسْتَغْفِرُوهُ إِنَّه هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

الْحَمْدُ لله عَلَى إحسانه وَالشّكرَ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهُ وَاِمْتِنانَهُ ، أَشُهْدَ أَنْ لَا إله إلّا اللهَ وَحْدِهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمَا لشأنه وَأَشْهَدَ أَنْ مُحَمَّدَا عَبْدَهُ وَرَسُولَهُ الدَّاعِي إِلَى رضوانه . اللَّهُمُّ فَصْلِ وَسَلْمَ عَلَى هَذَا النَّبِيِّ الْكَرِيمِ وَعَلَى آله وأصحابه وَمِنْ تَبِعَهُمْ بإحسان إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَا بَعْدَ

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala ….

Salah satu faktor penting yang menyebabkan jatuhnya kaum Muslimin ke dalam lembah kemaksiatan dan mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat taklid buta. Apakah taklid buta yang dilakukan terhadap musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi, Nashrani, penyembah berhala, atheis , atau yang dilakukan terhadap nenek moyang, kabilah, atau adat kebiasaan. Demikian pula taklid buta terhadap perilaku masyarakat tertentu.

Taklid buta merupakan penyakit turun temurun, dan menjadi akidah pemersatu bagi orang-orang kafir secara keseluruhan, dari dulu hingga sekarang, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan dalam friman-Nya:

(وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ )[الزخرف: 23]

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Az-Zukhruf: 23)

Dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan,

(وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ) [لقمان: 21]

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tapi Kami (hanya) mengikuti apa yang Kami dapati bapak-bapak Kami mengerjakannya.” Dan Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (Luqman: 21)

Bandingkan dengan realita umat Islam saat ini. Berapa banyak di antara mereka yang melakukan pelanggaran-pelanggaran akidah. Seperti berdoa kepada selain Allah, bernadzar yang diperuntukkan kepada orang-orang mulia menurut mereka, meminta bantuan kepada tukang sihir, tukang tenun dan para”non”normal. Semua disebabkan karena taklid buta kepada orang lain.

Demikian pula, hampir mayoritas negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim membuat peraturan yang berseberangan dengan agama Islam, karena mereka taklid buta kepada orang-orang kafir. Munculnya perbuatan bid’ah, khurafat dan tahayul dalam masyarakat Islam tidak lepas dari peran taklid buta terhadap nenek moyang dan leluhur yang telah mewabah ditengah-tengah umat.

Terjatuhnya sebagian kaum Muslimin ke dalam perbuatan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir baik dalam pola makan, pola minum, cara berpakaian, kebiasaan dan bahkan perayaan hari-hari keagamaan mereka disebabkan karena sifat taklid buta.

Hadirin shalat Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sifat taklid buta tidak akan memberikan sedikit pun manfaat positif, bahkan ia merupakan ideologi orang-orang celaka, jalan orang-orang merugi dan millah penghuni neraka di akhirat kelak. Maka kita perlu lebih waspada dan senantiasa berdoa semoga kita terhindar dari sifat taklid buta. Mari kita renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini,

(اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَأٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ47 فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ وَإِنَّا إِذَا أَذَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَإِنَّ الْإِنْسَانَ كَفُورٌ)[الشورى: 47-48]

“Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu), jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah) Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami Dia bergembira ria karena rahmat itu. dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena Sesungguhnya manusia itu Amat ingkar (kepada nikmat).” (Asy syuraa: 47-48)

Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala ….

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )

[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا رَبَّنَا هَبَّ لَنَا مِنْ أَزَواجِنَا وَذَرِّيَاتِنَا قَرَّةً أَعَيْنَ واحعلنا للمتقين إماما رَبَّنَا لَا تَزِغُ قُلُوبُنَا بَعْدَ إِذْ هِدْيَتَنَا وَهَبَّ لَنَا مِنْ لَدُنْكِ رَحْمَةَ إِنَّكِ أَنْتِ الْوَهَّابَ رَبَّنَا آتنا فِي الدُّنْيا حَسَنَةَ وَفِي ‹ الآخِرَةِ حَسَنَةً ‹ وَقَنَّا عَذَابَ النَّارِ عبَادُ اللَّهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعِدْلِ والإحسان وإيتاء ذى الْقربى وَيَنْهَى عَنْ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكِرِ وَالْبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكِرُونَ فَاِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ .