Tawakkal, Urgensi dan Kedudukannya

SIFAT

Tawakkal adalah perintah Allah Swt bagi setiap muslim. Tawakkal kepada Allah Swt bermakna menyerahkan semua keputusan hasil usaha kepada Allah Swt, baik dan buruknya, berhasil maupun gagalnya. Dan Seandainya seorang muslim bertawakkal kepada Allah Swt dengan benar, niscaya Allah Swt melimpahkan rezeki kepadanya seperti halnya burung-burung dan hewan lainnya.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )[آل عمران: 102]

(ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ) [النساء: ۱] ) يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا([النساء: 1]

أَلا فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

(وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ )[هود: 123]

Para hadirin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

Puji dan syukur hanya tertuju kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah satu-satu-Nya Dzat yang berhak menerima segala pujian dan ungkapan syukur. Karunia dan rahmat-Nya telah banyak kita nikmati, hidayah dan inayah-Nya telah banyak kita rasakan. Kesyukuran hakiki hanya dapat diwujudkan dalam bentuk kesiapan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Tanpa itu maka kita termasuk orang-orang yang ingkar nikmat.

Salam dan shalawat kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi yang telah memperjuangkan agama Islam di waktu siang dan malam, di kala sempit dan lapang. Dia mendakwahkan Islam tanpa mengenal ruang dan waktu. Dia telah menunaikan amanah, memberikan nasihat kepada umat, dan ia telah berjihad dijalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sungguh-sungguh dan sebenar-benarnya, hingga ia meninggalkan umat ini dalam keadaan telah tercerahkan dengan nur hidayah, dan cahaya taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah seseorang meniti jalan lain melainkan ia akan menjadi sesat di dunia dan binasa di akhirat.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah

Mencari rezeki merupakan sifat dasar setiap makhluk hidup, sejak terbitnya fajar, para petani, pedagang, buruh pabrik, pegawai dan segala bentuk profesi telah mempersiapkan diri untuk memasuki wilayah yang sangat panjang dan melelahkan tujuannya satu mencari kebutuhan hidup bagi diri dan keluarga mereka.

Keinginan untuk memperoleh penghidupan yang layak dan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam bentuk sandang, pangan dan papan diri dan keluarga kadang melalaikan sebahagian manusia sehingga mereka terjatuh dalam dunia penipuan, kedustaan, dan berbagai bentuk kezaliman.

Sesungguhnya kebutuhan manusia dalam mencari kecukupan hidup dan kekayaan dalam berbagai cara dan masa yang sangat panjang, membuat manusia membutuhkan penolong, dan relasi. Di samping itu mereka harus berhadapan dengan berbagai musuh yang senantiasa menunggu mereka, semua itu kadang mengantarkan manusia kepada kehinaan, kerendahan, dan mengharuskan mereka menjalani jalan yang berliku.

Ajaran Islam menganjurkan umatnya untuk tetap berlaku lurus dan melarang segala bentuk perilaku dan aktivitas yang dapat menodai rezeki yang dihasilkan. Islam mengharamkan setiap rezeki yang diperoleh dari jalan haram, dan melarang serta membenci sikap seorang Muslim yang memasuki wilayah penipuan, penghinaan diri, dan kezaliman yang dengan hal itu ia menghasilkan segala hal yang ia kehendaki dari berbagai kebutuhan.

Untuk menahan terjadinya metode semacam ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah kalian berusaha mencari rezeki dengan cara bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyerahkan apa yang ada pada sisinya kecuali dalam ketaatan kepada-Nya.”

Jika demikian halnya, lalu bagaimana jalan keluar dari perkara ini? bagaimana jalan penyelesaian dari bentuk kemungkaran di mana kebanyakan manusia hidup di atas bumi ini? merusak, memakan dan menzhalimi antara satu dengan lainnya? Zaman kita dapat menjadi menjadi bukti dan contoh akan timbulnya berbagai bentuk pelanggaran-pelanggaran semacam ini

Mari kita simak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini, ‘Jika kalian tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar tawakkal, maka Dia akan mengaruniakan kepada kalian rezeki sebagaimana yang dikaruniakan kepada burung yang keluar mencari makan dan kembali dalam keadaan membawa makanan.” (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Abdullah bin Mas’ud Ra. pernah berkata, “Bentuk lemahnya keyakinan seseorang adalah ketika dia rela terhadap manusia dengan kemarahan Allah dan kalian memuji mereka melebihi (pujian) kalian terhadap rezeki Allah yang tidak dapat mempengaruhi usaha para pengusaha, dan kebencian para pembenci, sesungguhnya dengan kemurahan dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dia telah menjadikan ruh dan kesenangan dalam keyakinan dan kerelaan, dan menjadikan semangat dan kesedihan dalam keraguan dan kemurkaan.”

Para pendengar yang mulia

Sesungguhnya bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kebutuhan mendasar setiap hamba, dan merupakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk senantiasa bertawakkal kapan dan di manapun mereka berada serta dalam kondisi apapun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ) [هود: 123]

“Dan kepunyaan Allah lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Huud: 123)

Pada ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman,

( وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا ) [الفرقان: 58]

“Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (Al-Furqan: 58)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khaththab dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. “Jika kalian tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya tawakkal, maka Dia akan mengaruniakan kepada kalian rezeki sebagaimana yang dikaruniakan kepada burung yang keluar mencari makan dipagi hari dengan perut kosong dan kembali dalam keadaan membawa makanan.” (HR. Al-TIrmidzi dan Ibnu Majah)

Masud dari kata “hati burung”, bahwa mereka adalah orang-orang yang bertwakkal, dan atau bahwa hati mereka adalah hati yang penuh dengan kelembutan.

Wahai saudaraku yang beriman

Sesungguhnya tawakkal merupakan bentuk keyakinan hati yang bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menguak kebaikan, mencegah bahaya, dan ia merupakan bentuk kesadaran hati bahwa usaha yang dijalankan tidak akan bisa menjamin hasil yang baik tanpa ada izin dari sang pemberi rezeki.

Tawakkal juga merupakan bentuk keyakinan dan iman, ketenangan dan kedamaian, percaya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dia adalah harapan yang senantiasa menyertai setiap pekerjaan. Kebulatan tekad yang tak meredup walau kesusahan silih berganti menerpa.

Imam Ibnu Al-Qayyim berkata, “Tawakkal adalah setengah dari keimanan dan setengah dari penyerahan diri.” dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjanjikan kepada mereka yang bertawakkal pahala yang sangat agung. sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan dalam Shahihain (Sahih Bukhari dan Muslim) dalam hadits yang menyebutkan tentang 70 golongan manusia yang masuk surga tanpa hisab mereka adalah,

هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah yang tidak meminta dirinya utuk diruqya, tidak berserah dengan keadaan, tidak berobat dengan setrika, dan kepada Tuhan mereka bertawakkal.”

Dalam Sunan Al-Tirmidzi dengan sanad yang Shahih dari riwayat Umar Radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian tawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar tawakkal, maka Dia akan mengaruniakan kepada kalian rezeki sebagaimana yang dikaruniakan kepada burung yang keluar mencari makan dan kembali dalam keadaan membawa makanan.”

Tidak dapat dinyatakan seseorang itu bertawakkal jika dia hanya berdiam diri dan tidak berusaha Sebagai contoh kekeliruan yang di lakukan oleh seseorang yang mengatakan, “Aku tidak berusaha mencari rezeki, karena jika aku ditakdirkan menjadi orang kaya, maka pasti aku menjadi kaya tanpa harus berusaha dan bersusah payah. Dan jika aku ditakdirkan menjadi miskin lalu untuk apa aku berusaha.” Ungkapan semacam ini merupakan bentuk tawakkal yang salah kaprah di samping sebagai kesesatan pemahaman. Setiap muslim wajib berusaha dan diperintahkan untuk berupaya mencari rezeki dengan menggunakan segala bentuk penyebab yang disyariatkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terdahulu tentang burung, “yang keluar mencari makan dan kembali dalam keadaan membawa makanan.” Berdasarkan hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyifati orang yang bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua sifat yaitu, berusaha dalam mencari rezeki dan bersandar kepada sebab akibat secara kuat. Dan barangsiapa yang tidak memiliki kedua sifat dan atau salah satu dari keduanya, maka dia telah merugi. Dan barangsiapa yang menggunakan sebab-sebab yang dibolehkan dan bersandar kepada Tuhannya dan bersyukur kepada-Nya jika menghasilkan apa yang diinginkannya, serta bersabar atas ketetapannya ketika menemukan kesusahan dan hal-hal yang tidak disenangi, maka dia tergolong orang-orang yang menang dan berhasil serta berhak mendapatkan segala bentuk kesempurnaan.

Sa’id bin Jabir pernah berkata, “Bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kumpulan keimanan.” Sebagian orang shalih pernah berkata, “Ketika sesorang merelakan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai wakil, maka ia akan mendapatkan jalan kepada setiap kebaikan.” Sebagian ulama salaf pernah berkata, “Cukup bagimu segala bentuk perantara yang kau usahakan kepada-Nya, agar Dia mengetahui kebaikan Tawakkalmu kepada-Nya.”

Hasil yang paling agung dari sifat tawakkal adalah pengetahuan kita terhadap nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang agung, serta memunculkan kemurnian tauhid dalam jiwa.

Para pendengar yang di rahmati Allah

Jika ada sesuatu yang pantas dikagumi, maka kagumlah kepada mereka yang mengenal dirinya sebagai manusia yang fakir dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa tergantung kepadanya pada setiap keadaan, sebab orang semacam ini bagaimana mungkin tidak bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Barangsiapa yang mengenal dirinya bahwa dia sangat membutuhkan Tuhannya, lalu bagaimana mungkin dia tidak meminta pertolongan dan kembali kepada Tuhannya?

Barangsiapa yang meyakini bahwa segala urusan berada ditangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu bagaimana mungkin dia tidak meminta urusan-urusan tersebut dari pemiliknya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala?!

Barangsiapa yang mengetahui betapa mahakaya dan mahadermawannya Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalau bagaimana mungkin dia tidak kembali kepada-Nya dalam segala bentuk urusan?

Barangsiapa yang meyakini dengan sebenar-benar keyakinan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih pengasih kepada hamba-hamba-Nya dari kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya, lalu bagaimana mungkin dia tidak merasa tenang dalam memahami segala bentuk karuniaNya?

Barangsiapa yang mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Bijaksana dalam segala bentuk ketetapannya, lalu bagaimana mungkin dia tidak dapat merasa rela atas segala ketetapnNya (takdir)?

Wahai para hamba yang senang menerima segala bentuk harta, sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan harta tersebut tanpa usaha, dan meminta bantuan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa bersandar kepada-Nya?

Wahai orang-orang yang senantiasa berusaha menjauhkan diri dari segala bentuk kemaksiatan dan dosa! Sesungguhnya kalian tidak akan mudah menjauhinya kecuali dengan berpegang teguh kepada yang Maha Mengetahui segala hal yang terselubung. Karena sesungguhnya siapa pun yang senantiasa bertawakkal kepada-Nya, maka itu cukup baginya. Barangsiapa yang meminta pertolongan kepada-Nya dan berpegang teguh pada-Nya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memperbaiki keadaan agama dan dunianya. Dan barangsiapa yang senaantiasa kagum pada dirinya sendiri dan hatinya terputus dari hubungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia tergolong orang-orang yang sangat merugi baik dunia maupun akhiratnya. Sebab betapa banyak orang yang lemah yang tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri mendapatkan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kekuatan tawakkalnya.

Tiada yang dapat terealisasi dengan baik tanpa pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan taufiqNya, dan tiada keberuntungan dan kebahagiaan tanpa menyembah-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya, Dialah yang lebih berhak untuk disembah, Dialah yang maha pemberi nikmat dan pemberi pertolongan yang sesungguhnya.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ

الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Wahai kaum Muslimin…

Ketahuilah, bahwa kewajiban seorang hamba adalah memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk berusaha dan tidak menjadikan usahanya sebagai jaminan satu-satunya untuk mendapatkan keberhasilan hidup. Selain itu, ia pun dituntut untuk bertawakkal hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pemilik segala urusan. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pemimpin orang-orang yang bertawakkal senantiasa menganjurkan kita untuk berusaha dengan giat dengan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki dalam mencari rezeki, demikian pula para sahabat beliau yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Hasan bin ‘Ali pernah berkata, tawakkal tidak menghilangkan segala bentuk usaha dengan menggunakan penyebab. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ ( ( النساء:٧١)

“Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kalian.” (Al-Nisaa’: 71)

Bertawakkallah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jauhilah segala hal yang bersifat tidak jelas, prasangka-prasangka buruk, khayalan yang dapat merusak akal dan dapat memberikan gambaran-gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan. Ketahuilah bahwa segala bentuk aktivitas yang dapat merusak tauhid dan akidah diharamkan oleh ajaran Islam, sebagai contoh mengundi nasib dengan menghitung hari, bulan, hewan, burung-burung, dan orang-orang yang senantiasa mengatakan “Ah” dan sebagainya. Mendatangi para dajjal, tukang tenun, tukang sihir, tukang perbintangan, atau mempercayai dukun, orang-orang pintar, para pengaku bahwa mereka mengetahui hal-hal gaib, paranormal, dan sebagainya.

Sesunguhnya bertawakkal hanya kepada Allah semata, penyerahan segala bentuk apa pun hanya kepada-Nya dan tidak kepada yang lain, dan meyakini bahwa Dialah satu-satunya pemilik segala betuk manfaat dan bahaya, serta menjauhi segala bentuk pengundian nasib merupakan perkara yang wajib untuk diyakini secara spiritual oleh setiap Muslim karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata yang Maha Perkasa dengan tidak menyekutukan-Nya dengan makhluk apa pun. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ )[يونس: 107]

“Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, Maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yunus: 107)

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسلموا تَسْلِيمًا ) ( الأحزاب: 56.) اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. ثَمَّ اللَّهُمَّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ ' الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ ' أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى ' بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ ' وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ ي أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

(رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8]

(رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) [البقرة: 201]

(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ) [النحل: 90]

اِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ