Berbakti Kepada Kedua Orangtua

SIFAT

Begitu besar perhatian Rasulullah Saw dalam masalah ini sampai-sampai beliau menjadikan kemampuan seseorang menjaga lisannya sebagai sumber dan pusat segala kebaikan. Sebaliknya, lisan yang tak terjaga menjadikan banyaknya manusia terjerumus kedalam neraka Allah Swt, maka waspadalah !

Oleh: Ustadz Syamsul Bahri Eljafaini

Khutbah Pertama

إنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَديِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحَدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلةٍ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak dan mengingatkan diri khatib sendiri serta qaum muslimin pada umumnya agar kita senantiasa mening-katkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wata’ala , dengan melaksanakan ketaatan kepada-Nya sesuai dengan apa yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamajarkan yang bersumber dari Allah subhanahu wata’ala, semata-mata mengharapkan ridha dan pahala dari Allah subhanahu wata’ala, dan kita tinggal-kan ma’siat kepada Allah subhanahu wata’ala sesuai dengan larangan yang telah disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena kita takut akan adzad dan siksa-Nya. Dan kita jadikan taqwa ini sebagai bekal kita dalam mengarungi kehidupan, baik di dunia yang fana ini atau di akhirat yang kekal kelak , karena dia adalah sebaik baik bekal.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

فَاتَّقُوا اللهَ يَا عِبَادَ اللهِ فَإِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ وَاَّلذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Maka bertaqwalah wahai hamba-hamba Allah , karena Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan bersama orang-orang yang berbuat ke-baikan”.

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!

Agar mampu meraih kenikmatan terbesar yaitu surga Allah, maka terdapat banyak jalan yang Allah sediakan untuk meraihnya, dan di antara jalan itu ada-lah Berbakti kapada orang tua.

Berkenaan berbakti terhadap orang tua, Didalam Al-qur’an terdapat ban-yak ayat-ayat yang menjelaskan hal itu, bahkan dibeberapa ayat Allah menggan-dengkan perkara ta’at terhadap orang tua dengan bertauhid kepada-Nya.

Dan dalam surat al-Isra: 23, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”

Dari ayat ini dapat kita ambil pelajaran besar, betapa perkara Birrul Wali-dain sangat agung disisi Allah, sehingga dalam hadits shahih rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Celaka dan sungguh celaka, dan sungguh celaka orang yang mendapati salah satu kedua orang tuanya dalam keadaan lanjut usia, namun ia tidak bisa masuk surga.”

Lantas apa yang menjadikan berbaikti kepada orang tua sebuah perkara besar yang dipandang dalam Al-qur’an dan Hadits.??

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!

Karena bagi seorang anak, orang tua adalah sebaik-baik sahabat didunia ini, lewatnya kita banyak belajar. Ibu yang mengandung, melahirkan, dan me-nyusui. Ayah yang bekerja untuk kelangsungan hidup kita, bimbingan mereka te-lah menjaikan kita dewasa, maka tidak heran suatu ketika seorang laki-laki menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meminta diajarkan tentang keu-tamaan birrul walidain. Sebagaimana apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ,

جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَاْبَتِي؟ قَالَ : ( أُمُّكَ ) قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (أُمُّكَ ) قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: (أُمُّكَ ) قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : أَبُوكَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, “Ya Rasulullah! Siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik? “Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Bapakmu”. (Mutafaq Alaih)

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!

Diantara keistimewaan orang tua, Rasulullah tetapkan sebagai tempat ji-had dalam sebuah hadits disebutkan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ رَسُول اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ يَسْتَأْذِنُهُ فِي اْلجِهَادِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَّ (أَحَيٌّ وَالِدَاكَ ) قَالَ : نَعَمْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ : (فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ )

“Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallammeminta ijin kepadanya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamber-kata kepadanya, “Berjihadlah (dengan berbakti) pada keduanya.” (HR Bukhori kitab al-Adab & Muslim kitab al-Birr wa ash-Shilah)

Hadits ini memberikan pelajaran, bahwa jihad adalah perkara wajib, na-mun berbakti terhadap orang tua lebih wajib layaknya fardu ‘ain.

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!

Keutamaan birrul walidain yang lain adalah, bahwa hal itu merupakan si-fat para Nabi ’alaihimussalam . Allahsubhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Nuh ’alaihissalam ( Nuh: 28 ),

“Ya Tuhanku ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke ru-mahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain ke-binasaan”.

Allah subhanahu wata’ala juga mengisahkan Nabi Ibra-him ’alaihissalam dengan firman-Nya, (Maryam: 47),

“Ibrahim berkata, “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.”

Juga pujian Allah subhanahu wata’ala kepada Nabi ‘Isa ’alaihissalam (Maryam: 32 )

“Dan berbakti kepada ibuku , dan Dia tidak menjadikan aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka.”

Juga pujian Allah kepada Nabi Yahya ’alaihissalam (Maryam: 14 )

“Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka .”

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!

Itulah kisah dan sikap para Nabi ’alaihimussalam kepada orang tua mereka, dan jalan mereka itulah jalan yang lurus/ shirathal mustaqim, yang selalu kita minta dalam shalat kita

Allah subhanahu wata’alaberfirman ( an-Nisa: 69),

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu Nabi-Nabi, para shiddiqqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh.Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.”

Dan inilah salah satu jalan untuk meraih surga. Namun yang perlu diper-hatikan adalah, bahwa berbuat baik kepada keduanya bukan berarti kita harus melaksanakan semua perintah mereka.

Allah subhanahu wata’alaberfirman dalam Luqman:15

Artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Sa’ad bin Waqqosh radhiyallahu ‘anhu berkata, “Diturunkan ayat ini (Luqman: 15) (berkaitan dengan masalahku), Dia berkata, “Aku adalah seorang yang berbakti kepada ibuku, maka tatkala aku masuk Islam, dia berkata, “Wahai Sa’ad apa yang aku lihat dengan apa yang baru darimu?” “Tinggalkan agama ba-rumu itu kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu dicela dengan sebab kematianku dan kau akan dipanggil dengan wahai pembunuh ibunya”. Maka aku katakan kepadanya, “Jangan kau lakukan wahai ibuku, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa saja”. Maka dia (ibu Sa’ad) diam, tidak makan selama sehari semalam, maka dia kelihatan sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan semakin payah. Maka tatkala aku melihatnya aku berkata kepadanya, “Hendaklah kau tahu wahai ibuku, seandainya kau memiliki seratus nyawa, dan nyawa itu melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tigggalkan agama ini ka-rena apapun juga, maka kalau kau mau makan makanlah , kalau tidak maka jangan makan”. Lantas diapun makan.”(Tafsir Ibnu Katsir )

Walaupun kita harus berbuat baik kepada keduanya, bukan berarti kita boleh memintakan ampunan kepada Allah subhanahu wata’alabagi mereka. Al-lah subhanahu wata’ala berfirman, (at-Taubah: 113)

Artinya, “Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allahsubhanahu wata’ala) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahan-nam.”

Ma’asyiral Muslimin Rahimani wa Rahimakumullah!!

Allah subhanahu wata’ala menyediakan balasan/ pahala yang besar bagi siapa yang taat pada orang tuanya.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رضَى الرَّبِّ فِي رِضَى اْلوَالِدِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سُخْطِ اْلوَالِدِ (رواه الترمذي و صححه الألباني)

“Ridha Allah pada / tergantung ridha bapak dan murka Allah pada murka orang tua.” ( HR Tirmidzi kitab al-Birr wa ash-Shilah, dishahihkan oleh al-Albany )

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah perbuatan yang paling utama?” Rasulullah menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Kemudian apalagi?” Rasulullah menjawab, “Berbuat baik kepada Orang tua. “Kemudian apalagi?” Rasulullah menjawab, “Berjuang di jalan Allah.” (HR Bukhari kitab al-Hajj dan Muslim bab Bayan kaunil iman billah min afdhailil a’mal)

Dan pahala yang besar ini tidak kita mudah dapatkan kecuali dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada orang tua kita

Semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan taufiq dan kekuatan kekuatan kepada kita semua supaya kita bisa berbuat baik kepada kedua orang tua kita.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا} ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ:{إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.

Sumber:

http://ziyad-id.blogspot.com/2013/12/khutbah-jumat-berbakti-kepada-orang-tua.html