Adab-adab Menyambut Bulan Ramadhan

SIFAT

Ibadah dalam terminology Islam memiliki makna yang umum dan luas, ia mencakup semua aktifitas dalam bentuk perbuatan atau perkataan yang disukai dan diridhai oleh Allah Swt dan mendatangkan kebaikan dunia dan akherat. Seorang muslim sadar dan yakin bahwa ia sebagai hamba Allah Swt, wajib membuktikan penghambaannya kepada Allah Swt dalam bentuk kesigapan menjalankan semua perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Oleh: Ustadz Arif Fauzi

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )

[آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا) [النساء: 1]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا )[الأحزاب: 70-71]

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ )[البقرة: 185]

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!

Wahai orang yang lama menghilang dari kami, telah dekat hari kebaikan.

Wahai orang-orang yang masih dalam kerugian, telah datang hari perdagangan yang penuh keuntungan..

Siapa yang tidak beruntung pada bulan ini, maka kapan dia akan beruntung?

Siapa yang tidak dekat dengannya, maka ketika itu dia akan pergi..

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah. Bersyukurlah atas semua nikmat yang telah diberikan kepada kalian. Di antaranya nikmat bulan Ramadhan yang beberapa hari lagi akan datang menjumpai kalian, bulan yang penuh rahmat, berkah dan maghfirah. Hormatilah waktu-waktu itu dengan memaksimalkan ketaatan dan ibadah kepadanya serta menghindari kemaksiatan dan dosa.

Ibadallah (wahai hamba Allah), sambutlah bulan Ramadhan karena Al-Qur’an diturunkan padanya, amal shalih dilipatgandakan balasannya, amal keburukan dihapus, hari-hari pertamanya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, terakhirnya pembebasan dari api neraka. Siang harinya Allah mewajibkan puasa sebagai salah satu rukun Islam, malam harinya disunnahkan mendirikan shalat malam. Siapa yang puasa dengan penuh keimanan dan pengharapan, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Siapa yang melaksanakan umrah di bulan ini, pahalanya seperti orang yang melaksanakan ibadah haji. Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka sedang pintu -pintu neraka ditutup, syetan-syetan akan dibelenggu.

Imam Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah berfirman, ’Setiap amal Bani Adam untuk dia, kecuali puasa. Karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa itu benteng, apabila salah seorang dari kamu berpuasa, maka janganlah berkata yang kotor dan jorok. Apabila ada yang mencaci kamu atau mengajak berkelahi, maka katakanlah kepadanya, ’Saya sedang puasa’. Demi Allah, yang jiwa Muhammad ditangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang puasa itu lebih wangi disisi Allah dari minyak kesturi. Orang yang puasa itu mendapat dua kebahagiaan; yaitu ketika akan berbuka dia gembira dengan waktu berbukanya dan ketika bertemu Tuhannya dia bergembira dengan puasanya.”

Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban bagi setiap pribadi Muslim dan bahkan menjadi salah satu rukun Islam. Barangsiapa yang mengingkari kewajibannya, maka ia telah kafir, karena dia mendustakan Allah, Rasul-Nya dan ijma’ kaum Muslimin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ )[البقرة: 183]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Puasa diwajibkan bagi mereka yang telah baligh, berakal, mampu, mukim, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak haidh atau nifas. Namun tidak diwajibkan bagi mereka yang kafir, anak kecil yang belum baligh. Akan tetapi jika dia mampu berpuasa, maka suruhlah dia puasa agar terbiasa. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para sahabat Radhiyallahu Anhum.

Seseorang dianggap telah baligh apabila:

Usianya sampai 15 tahun

Atau telah tumbuh bulu kemaluannya

Atau telah keluar spermanya lewat mimpi atau karena hal lain. Adapun bagi wanita ditambah lagi dengan keluarnya darah haid.

Puasa tidak wajib bagi wanita haid atau nifas dan orang yang tidak berakal, seperti orang gila, idiot, dan lainnya. Orang yang fisiknya lemah seperti orang tua, orang sakit yang tidak kunjung sembuh tidak wajib berpuasa meski mereka dibebankan untuk memberi makan satu orang miskin setiap hari sebanyak seperempat sha’ gandum berserta lauk pauknya.

Bagi Orang sakit, wanita hamil dan orang musafir jika puasa tidak menyulitkan mereka, maka mereka dianjurkan untuk tetap berpuasa, namun jika mereka merasa berat dan kesulitan maka dibolehkan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di lain hari sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Wanita haid dan nifas tidak wajib berpuasa. Mereka berdua tidak sah untuk berpuasa sampai keduanya suci walau sesaat sebelum waktu fajar tiba. Karena itu, wajib baginya untuk berpuasa serta sah meskipun mereka mandi setelah terbit fajar, dan mereka wajib mengqadha hari-hari yang ditinggalkan.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala…

Jika siang hari Ramadhan dihidupkan dengan puasa, maka malam harinya dihidupkan dengan shalat sunnah tarawih secara berjamaah di masjid-masjid Allah Subhanahu wa Ta’ala, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa menghidupi bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua sehingga kita mampu memanfaatkan momentum Ramadhan tahun ini dengan sebaik-baiknya. Kita berharap menjadi orang-orang yang dibebaskan dari neraka dan menjadi penduduk surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ

الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Jum’at yang berbahagia...

Manfaat positif yang dirasakan oleh seorang hamba yang menjalankan ibadah puasa, adalah:

Melemahnya gejolak nafsu dan menjauhkan sifat sombong serta lalai yang dipicu oleh rasa kenyang.

Menjadikah hati lebih siap untuk berpikir dan berdzikir.

Orang kaya dapat lebih menyadari kenikmatan Allah atas dirinya, memicu munculnya rasa syukur yang mendalam terhadap nikmat Alla. Hatinya terpanggil untuk menolong yang membutuhkan bantuan.

Godaan syetan, luapan emosi dan amarah akan menjadi sempit dan lemah akibat kurangnya suplai makanan ke pembuluh darah yang menjadi jalan bagi syetan dalam tubuh manusia.

Kesempurnaan taqqarrub hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, didapat dengan meninggalkan semua bentuk pelanggaran dan hal-hal yang diharamkan oleh Allah setiap saat. Seperti berdusta, kezhaliman, membunuh, mencuri dan merusak kehormatan orang lain. Untuk itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang belum dapat meninggalkan sumpah palsu dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.”

Sebagian salaf berkata, “Puasa yang paling ringan adalah menahan makan dan minum.”

Jabir berkata, “Jika Anda berpuasa, maka pendengaran, penglihatan serta lisanmu hendaklah berpuasa pula dari berkata dusta dan segala perbuatan yang haram. Janganlah Anda sakiti tetangga, dan hendaknya bisa bersikap tenang dan santun di hari puasa, dan jangan sampai hari puasamu dan hari lainnya sama saja.”

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala...

Sebagian ulama membagi orang yang berpuasa ke dalam dua tingkatan :

Pertama, orang yang meninggalkan makan, minum serta menahan syahwatnya karena Allah Ta’ala dengan mengharapkan ridha-Nya. Golongan ini mendapat balasan surga beserta kenikmatan-kenikmatan di dalamnya berupa makanan, minuman dan bidadari-bidadari. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“(Kepada mereka dikatakan), ’Makan dan minumlah dengan nikmat disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (Al-Haaqah: 24)

Mujahid dan yang lainnya mengatakan, “Ayat ini turun atas orang-orang yang berpuasa.” dan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada,

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ

“Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayan. Hanya orang-orang yang berpuasalah yang boleh memasukinya pada Hari Kiamat.”

Kedua, orang yang meninggalkan segala sesuatu selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia menjaga kepala dan fikirannya, menjaga perut dan isinya, mengingat mati, kemusnahan dan akhirat serta meninggalkan kesenangan dunia. Maka hari raya bagi mereka adalah ketika ia berjumpa dengan Allah dan kebahagiannya adalah ketika bisa memandang-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.” (Al-Ankabut: 5)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hadits qudsi “Setiap amalan anak Adam adalah miliknya, kecuali puasa. Sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Aku yang akan langsung membalasnya.” Maknanya adalah seluruh amalan akan dilipatkangandakan dari 10 hingga 700 kali lipat, kecuali puasa. Ia tidak akan dilipatgandakan dengan bilangan-bilangan itu. Tetapi, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melipatgandakan dengan jumlah yang sangat banyak, tanpa membatasi jumlahnya, karena puasa merupakan kesabaran.

Sebagian ulama mengatakan, sesungguhnya alasan penisbahan puasa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena puasa memaksa seseorang meninggalkan beberapa hak-hak jiwa dan syahwat seseorang, baik itu berupa makanan, minuman, bersetubuh, dan lainnya. Hal ini tidak terdapat dalam ibadah-ibadah lainnya.

Bulan Ramadhan tidak dapat dipisahkan Al-Qur’an, sebab keduanya memiliki hubungan yang erat. Bahkan sebagian ulama menyebut Ramadhan sebagai bulan Al-Qur’an. Imam Azzuhri berkata, “Sesunguhnya bulan ini untuk membaca Al-Qur’an dan memberi makan orang miskin.” Ibnu Abdul Hakam berkata, “Dulu ketika Ramadhan tiba, Imam Malik menggantikan majelis ilmu bersama para ulama dan pembacan hadits dengan membaca Al-Qur’an atau mushaf.”

Ibadallah (wahai hamba Allah)…

bulan Ramadhan pula sebagai ajang latihan berinfak dan banyak mendermakan harta. Disebutkan dalam Shahihain dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata, “Rasulullah adalah manusia paling dermawan dalam kebaikan. Pada bulan Ramadhan beliau lebih dermawan lagi, sampai ia bertemu dengan Jibril. Jibril selalu mendatanginya pada malam bulan Ramadhan untuk mengajari Nabi Al-Qur’an. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hendak menemui Jibril, beliau adalah sosok orang yang paling dermawan dalam kebaikan melebihi angin berhembus.”

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!

Ramadhan merupakan karunia terbesar Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Marilah kita manfaatkan dengan bersungguh-sungguh menjalankan puasa, mendirikan shalat-shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, membantu orang-orang yang berpuasa dan berbagai ketaatan lainnya. Ya Allah, terimalah puasa kami dan qiyamul lail kami, dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِل (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )

[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

(رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8] (رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) [البقرة: 201]

عِبَادُ اللَّهِ (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ) [النحل: 90]

اِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ