Adab dan Etika Membaca Al-Qur’an

SIFAT

Keutamaan shalat lainnya karena ia disyariatkan tanpa perantara tapi langsung dari langit yang ketujuh.

Oleh: Ustadz Arif Fauzi

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )[النساء: 1]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا71)[الأحزاب:70-71]

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!….

Kitab Suci Al-Qur’an adalah sumber kebahagiaan dan jalan keluar dari fitnah yang beragam. di dalamnya terdapat berita yang terjadi sebelum kalian dan kabar yang akan terjadi setelah kalian. Siapa yang meninggalkannya karena kesombongan, Allah akan memusuhinya. dan barangsiapa yang mencari petunjuk dari selain-Nya, maka Allah akan menyesatkannya.

Al-Qur’an adalah tali Allah yang kokoh, peringatan yang bijaksana, dan penunjuk jalan yang lurus. Dengannya hawa nafsu tidak akan tersesat, dan lisan tidak akan keliru. Ulama tidak pernah bosan mempelajarinya. Kebenarannya tidak terbantahkan, tak akan habis keajaibannya. Barangsiapa berkata dengannya, maka ia benar. Barangsiapa mengamalkannya, ia akan mendapatkan balasannya. Barangsiapa menghukumi persoalan dengannya, maka ia pasti adil. Barangsiapa menyeru kepadanya, maka ia akan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.

Itulah Kitabullah, Al-Qur’an Al-Karim. Maka bersegeralah untuk mempelajarinya, membacanya dan bertafakur tentangnya. Ajarkanlah anak-anakmu tentangnya. Tumbuhkanlah mereka di atas kecintaan kepadanya dan membacanya. Sehingga, hati mereka tunduk kepadanya dan selalu berhubungan dengannya. Maka, ia akan menyucikan akhlak mereka, membersihkan jiwa-jiwa mereka, dan mereka menjadi pembawa Al-Qur’an dan ahlinya. Karena, apabila anak mempelajari Al-Qur’an, ketika baligh ia mengetahui apa yang harus ia baca dalam shalatnya. dan, menghafal Al-Qur’an ketika kecil itu lebih baik dari pada menghafalnya ketika dewasa. Ia akan lebih kuat hafalannya, lebih meresap, dan lebih kokoh. Karena belajar ketika kecil seperti mengukir di atas batu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fatir: 29-30)

Imam Bukhari, meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan baik dan lancar, maka ia akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Muslim, dari Umamah Al-Bahili Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahlinya (yang membaca dan mengamalkannya) ”

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah rumah Allah (masjid) dalam rangka membaca Kitabullah (Al-Qur’an), mempelajari serta mengajarkannya di antara mereka, melainkan akan turun ketenangan dan ketentraman kepada mereka. Mereka akan dipenuhi oleh rahmat dan para malaikat akan senantiasa mengelilingi mereka serta Allah akan menyebut nama mereka di sisi para malaikat.”(HR. Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Al-Qur’an akan datang pada Hari Kiamat seraya memohon, ‘Ya Rabb! Hiasilah ia (pembaca Al-Qur’an), maka Allah-pun memakaikan mahkota kemuliaan. Lalu ia berkata lagi, ’Tambahkan ya Allah!’ Maka Allah-pun memakaikan perhiasan kemuliaan. Iapun meminta lagi, ’Ridhailah ia ya Allah’. Lalu Allah-pun meridhainya. Lalu ia berkata, bacalah dan perbaikilah bacaanmu, dan setiap ayat akan ditambahkan satu kebaikan.”(HR. At-Tirmidzi dan hadits ini hasan)

Beberapa adab yang perlu diperhatikan oleh seorang Muslim yang hendak membaca Al-Qur’an Di antaranya adalah:

Mengikhlaskan niat semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya apabila Hari Kiamat tiba, Allah turun untuk mengadili para hamba-Nya, sementara semua umat pada hari itu berlutut. dan yang pertama kali dipanggil ialah para penghapal Al-Qur’an, lalu orang yang berperang di jalan Allah, kemudian orang-orang kaya. Lalu Allah bertanya kepada pembaca Al-Qur’an, ’Bukankah Aku telah ajarkan kepadamu Al-Qur’an yang aku turunkan kepada Rasul-Ku?’ Spontan orang itu menjawab, ’Benar ya Rabb!’ Lalu Allah bertanya lagi, ’Lalu apa yang telah kamu perbuat dengan ilmumu itu?’ Ia menjawab, ’Aku mengamalkannya siang malam.’ Allah-pun membantah, ’Bohong’. Malaikatpun berkomentar, “Justru niatmu adalah agar kamu dikatakan sebagai ahli baca Al-Qur’an, dan gelar itu sudah diberikan kepadamu. Artinya, kamu telah mengambil upahmu di dunia, lalu orang itupun di lemparkan ke dalam api neraka. na’udzubillah.”

Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci itu lebih utama dari pada tidak bersuci.

Bersiwak (membersihkan mulut), karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya mulut kalian adalah jalan keluarnya Al-Qur’an, maka bersihkanlah mulut kalian dengan siwak.”

Meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk ketika membaca Al-Qur’an, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Apabila kamu membaca Al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

Membaca basmallah. Pada setiap permulaan surah selain Surah “Bara’ah”, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau mengetahui akhir surat dengan awal surat setelahnya melalui basmallah. Melainkan pada satu tempat, yaitu antara Surah Al-Anfaal dan Bara’ah.

Membaca Al-Qur’an dengan tartil (pelan-pelan dengan memperhatikan hukum tajwid yang ada). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan bacalah Al-Qur’an dengan Tartil.” Dalam Kitab As-Shahihain terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, ada seorang yang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku membaca Mufasshal dalam satu rakaat. Maka Ibnu mas’ud berkata kepada orang tersebut, “Bacaanmu seperti membaca syair saja (beliau mengingkari bacaan orang tersebut yang begitu cepat). Sesunguhnya suatu kaum membaca Al-Qur’an, namun bacaan mereka tidak bisa mencapai kerongkongan mereka. Andai saja bacaan mereka merasuk ke dalam jiwa mereka, niscaya itu akan bermanfaat.” Ibnu Mas’ud juga berkata, , “Janganlah kalian membaca Al-Qur’an layaknya kalian membaca sajak korma busuk, dan jangan pula kalian membacanya seperti membaca syi’ir. Tapi berhentilah sejenak untuk menghayati keajaibannya dan gerakkan hati kalian dengannya, serta jangan sampai perhatian kalian hanya terfokus pada akhir surah saja.”

Mengindahkan suara dalam membaca Al-Qur’an. Berdasarkan sabda Rasulullah, “Indahkan Al-Qur’an dengan suara kalian, karena suara yang merdu akan manambah keindahan Al-Qur’an.”

Melagukan Al-Qur’an. Rasulullah pernah bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ

“Barangsiapa yang tidak melagukan Al-Qur’an, maka tidak termasuk golongan kami..”

Melantangkan bacaan. Maksudnya tidak membaca Al-Qur’an layaknya suara wanita, apabila yang membaca laki-laki. Janganlah membaca Al-Qur’an layaknya suara laki-laki, apabila yang membaca adalah perempuan. Tetapi hendaklah masing-masing membaca sesuai dengan tabiatnya, laki-laki dengan tabiatnya, begitu pula perempuan, tidak boleh ada tasyabbuh di dalam membaca Al-Qur’an.

Berhenti pada penghujung ayat, sekalipun ujung ayat tersebut ada keterkaitan makna dengan ayat setelahnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits Shahih-nya, Bahwa beliau pernah memotong bacaan beliau pada tiap ayat; (الْحَمْدُ لله رُبَّ الْعَالَمِينَ) , lalu berhenti sejenak, (الرَّحْمَن الرَّحِيمَ) . Dari Ummu Salamah Radhiyallahu Anha, beliau pernah ditanya tentang bacaan Rasulullah, maka beliau menjelaskan, Rasulullah kadang memotong bacaanya per ayat; (بِسْم اللَّهِ الرَّحْمَن الرَّحِيمَ) ,

(الْحَمْدُ لله رُبَّ الْعَالَمِينَ).

Tidak boleh mengeraskan suara bacaan Al-Qur’an di sebelah orang lain, karena dapat mengganggu orang yang ada di sebelahnya. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits, “Ketahuilah setiap kalian bermunajat kepada Allah, maka jangan sampai ada yang saling mengganggu satu sama lain pada waktu membaca.”

Menghentikan bacaan ketika mengantuk. Imam Ahmad, Muslim, dan yang lainnya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila seorang dari kalian shalat malam, lalu bacaan Al-Qur’annya menjadi tidak jelas, lalu ia tidak paham apa yang ia baca, hendaklah ia pergi tidur, agar Al-Qur’an tidak sampai bercampur dengan yang lain, atau ayat-Nya tertukar, maju mundur, atau mungkin menyebut huruf yang bukan dari Al-Qur’an dan sejenisnya yang sering dilakukan oleh orang yang mengantuk. Karena itu, jika rasa itu mulai menyerang, hendaklah ia segera pergi dan tidur.

Memperhatikan surat-surat yang memiliki keutamaan serta sering-sering membacanya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah Seorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam? Sesungguhnya barangsiapa yang membaca Surah Al-Ikhlas pada suatu malam, maka sungguh ia telah membaca pada malam tersebut sepertiga Al-Qur’an.”

Tidak boleh membaca Al-Qur’an ketika rukuk dan sujud, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,”Wahai manusia! Sesungguhnya tidak ada yang tersisa berita gembira para Nabi melainkan mimpi yang bagus, mimpi yang dilihat oleh orang Muslim, ataupun diperlihatkan kepadanya. Ketahuilah, sesungguhnya aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an dalam keadaan ruku’ dan sujud. Adapun dalam keadaan rukuk’, maka agungkanlah Rabbmu, sedangkan dalam keadaan sujud, maka bersungguh-sungguhlah berdoa di dalamnya niscaya doamu akan dikabulkan.”

Bersabar bagi orang yang kesulitan dalam membaca Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ”Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir, ia bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala.” Jadi seandainya ia bersabar atas kesulitan tersebut dengan senantiasa berusaha untuk terus belajar sesuai kemampuannya, pasti ia akan diberikan ganjaran yang sangat agung.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ

الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!..

Adapun di antara adab dalam membaca Al-Qur’an lainnya adalah;

Menangis ketika membaca Al-Qur’an. firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memuji orang-orang yang beriman, ”Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, beliau berkata, Rasululah pernah bersabda kepadaku, “Bacakan aku Al-Qur’an!” Lalu aku berkata, “Aku bacakan Al-Qur’an, padahal kepadamu Al-Qur’an diturunkan?” Rasulullah pun menjawab, ”Aku senang mendengarkannya dari orang lain. Lalu akupun membacakan untuknya Surah An-Nisaa’ hingga ayat,

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاء شَهِيدًا

”Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (Al-Israa’: 108), tiba-tiba Rasulullah memerintahkanku untuk berhenti dan ketika itu pula air mata beliau berlinang.” (HR.Bukhari)

Seorang sahabat berkata, “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dan dari perut beliau terdengar desis seperti suara periuk (beliau sedang menangis) ”(HR. An-Nasa’i) dan sebagaimana sudah diketahui dari kisah Abu Bakar As-Shiddiq Radhiyallahu Anhu, ketika Rasulullah sakit yang mengantarkan kepada wafat, Aisyah Radhiyallahu Anha berkata kepada Rasulullah, “Ia (Abu Bakar) adalah laki-laki berhati lembut. Jika ia membaca (Al-Qur’an) pasti ia akan menangis.” Menurut suatu riwayat, “Sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang mudah sedih, jika ia menggantikanmu, niscaya ia tidak akan sanggup mengimami manusia.”

Mentadabburi (menghayati) apa yang sedang dibaca. Allah berfirman, “Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Shaad: 29)

Membaca dengan suara yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembut.

Hendaklah membaca Al-Qur’an dengan posisi dan cara yang sopan. Si pembaca boleh membaca Al-Qur’an dengan posisi duduk, berdiri, berjalan atau berbaring, semuanya itu dibolehkan .

Wahai hamba Allah! Barangsiapa mempelajari Al-Qur’an, maka hendaklah menjaganya, memperbanyak bacaannya, serta memahami dan mentadabburinya dengan kekhusyu’an dan ketelitian. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan dikali sepuluh, aku tidak mengatakan “Alif Laam Mim” itu satu huruf, tapi “alif” itu satu huruf, “Laam” satu huruf dan “Mim” juga satu huruf.” (HR.Tirmidzi, beliau berkata, “hadits ini hasan.”)

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا)

[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

( رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8]

(رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) [البقرة: 201]

عِبَادُ اللَّهِ (إنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ) [النحل: 90]

فَاِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ