Anjuran Memperbanyak Berdoa

SIFAT

Berbagai macam tanda-tanda kiamat telah bermunculan dan terus akan bermunculan. Olehnya itu, setiap pribadi muslim seharusnya sadar dan kembali kepada agama Allah Swt sebelum datangnya hari kiamat, di mana saat itu tidak lagi bermanfaat pernyataan keimanan dari jiwa yang sebelumnya telah kafir.

Oleh: Ustadz Arif Fauzi

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )[النساء: 1]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 71)[الأحزاب:( 70-71)

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى: (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ )[غافر: 60]

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!

Seluruh makhluk pasti membutuhkan Rabb mereka, baik dalam mengambil manfaat ataupun menolak mudharat, untuk meraih kebaikan agama, dunia, serta kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin bertambah kualitas ibadah seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan semakin sempurna dan tinggi derajatnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji hamba-hamba-Nya dengan segala rintangan, yang mendorong mereka untuk memohon kepada-Nya. Ini adalah suatu kenikmatan yang terkandung dalam ujian. Sikap membutuhkan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga merupakan satu kekayaan tersendiri, inti dari ibadah, dan tujuan yang mulia. Ketundukan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang tidak pernah zhalim, merupakan kemuliaan yang tinggi. Berdoa adalah pertanda (inti) dari ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-hamba-Nya yang selalu meminta kebutuhan mereka kepada-Nya

Diriwayatkan oleh Muslim, dalam hadits qudsi yang berasal dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu,

يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ

“Wahai hamba-Ku, setiap kalian adalah tersesat kecuali yang Aku berikan kepadanya hidayah. Karenanya, mintalah petunjuk kepada Aku, niscaya Aku akan memberi kalian petunjuk. Wahai hamba-Ku, setiap kalian adalah lapar, kecuali yang aku beri makan kepadanya. Karenanya, mintalah kepadaku makanan, niscaya aku akan berikan kepadamu makanan. Wahai hamba-Ku, setiap kalian itu telanjang, kecuali yang Aku berikan kepadanya pakaian. Karenanya, mintalah kepadaku pakaian, niscaya akan aku berikan kepadanya pakaian.” (Al-Hadits)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan sebab-sebab kebahagiaan dan kebinasaan yang tertuang dalam hukum kausalit’alahissalam Tak ada sesuatu pun yang mampu menghalangi kehendak serta iradah-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ )[الأعراف: 54]

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-A’raf: 54)

Doa adalah sesuatu yang paling mulia disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah mensyariatkannya sebagai sarana untuk mendapatkan manfaat, kabaikan keberkahan dan untuk menghindari mudharat, keburukan ataupun musibah. Disebutkan di dalam hadits, “Doa itu bermanfaat bagi apa saja yang telah turun dan apa saja yang belum turun.” (Al-Hadits)

Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dalam banyak ayat. Di antaranya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ )[غافر: 60]

“Dan Tuhanmu berfirman, «Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Inti doa adalah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memenuhi kebutuhan-kebutuhan dunia dan akhirat, menghilangkan malapetaka dan menghindarkan keburukan. Selain itu berdoa merupakan manifestasi dari ibadah kepada Rabb, yang menunjukkan ketergantungan hati, kefakiran raga dan keikhlasan kepada Allah.

Doa juga mengadung unsur keyakinan bahwa Allah Mahakuasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan-Nya, Maha Mengetahui, tidak ada yang tersembunyi darinya, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Mahahidup lagi terus menerus mengatur makhluknya, Maha Pemurah lagi Mahamulia. Dzat yang Terpuji, yang memiliki kebajikan selama-lamanya. Kedermawanan dan kemualiaan-Nya tidak terbatas, kebaikan dan perbuatan ma’ruf-Nya tidak pernah berhenti dan simpanan keberkahan-Nya tak pernah habis.

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah ada sesuatu yang lebih mulia atas Allah kecuali doa.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Imam At-Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari ‘Ubadah bin Shamit Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba berdoa kepada Allah di atas muka bumi kecuali akan Allah kabulkan permintaannya, atau dijauhkan kejelekan darinya, selama ia tidak kembali melakukan dosa atau memutus tali pesaudaraan. Kemudian seorang laki-laki dari kaum tersebut berkata, “Jadi, kita memperbanyak (doa)? Beliau bersabda, “Allah lebih banyak lagi (mengabulkan permintaan kalian).” (HR. Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu secara marfu’,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ فيه الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

”Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah tatkala sujud. Maka perbanyaklah doa (ketika sujud).” (HR. Muslim)

Waktu antara azdan dan iqamat merupakan waktu mustajab untuk berdoa. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu secara marfu’, “Doa itu tidak akan ditolak di antara adzan dan iqamah.” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata “hadits hasan shahih). Disebutkan dalam Shahih Bukhari, secara marfu’,

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kami Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam di sepertiga malam terakhir, lalu Ia berfirman, ‘Barangsiapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan. Barangsiapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku beri. Barangsiapa meminta ampunan kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.”

Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ia berbicara tentang hari Jum’at,” beliau berkata, “di dalamnya terdapat satu waktu, yang seorang hamba berdiri shalat pada waktu tersebut dan memohon sesuatu kepada Allah, kecuali akan Ia berikan kepadanya. Dan ia mengisyaratkan dengan tangan sembari menyedikitkannya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi)

Adapun di antara waktu mustajab untuk berdoa, sebagaimana dijelaskan oleh syariat, adalah pada malam lailatul qadar, Hari Arafah, tatkala berada di Hajar Aswad, ketika hujan turun, dan setelah shalat lima waktu.

أَقَوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلَّ ذَنَبَ فَاِسْتَغْفَرُوهُ إِنَّه هوالغفور الرَّحِيمَ

الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Di antara syarat-syarat terkabulnya doa adalah

Pertama, ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

(فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ )[غافر: 14]

“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)” (Ghafir: 14)

Dalam hadits qudsi, ”Wahai Bani Adam! Kalau sekiranya kalian mendatangiku dengan sepenuh bumi kesalahan, kemudian kalian menemui-Ku (dengan) tidak menyekutukan-Ku, niscaya akan Aku berikan kepada kalian sepenuh bumi ampunan.” (HR. Tirmidzi)

Kedua, menjauhi hal-hal yang diharamkan, baik dalam hal makanan, minuman atau pakaian. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha baik, tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, sesungguhnya Allah memerintahkan kaum Muslimin sebagaimana Ia memerintahkan para Rasul.” (HR. Muslim)

Allah berfirman,

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ) [البقرة: 172]

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Al-Baqarah: 172)

Kemudian ia menyebutkan seseorang yang memperlama safarnya, kusut lagi berdebu dan mengangkat kedua tangannya ke langit. “Wahai Rabb, wahai Rabb….”, sedang makanan yang ia makan itu haram, dan minuman yang ia minum itu haram, dan pakaiannya juga haram, dan makan dari yang diharamkan. Lalu bagaimana akan dikabulkan doanya?

Ketiga, kehadiran hati dan kuatnya harapan. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ia bersabda, “Berdoalah kepada Allah, dan kalian yakin akan diijabah (dikabulkan), dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima doa dari orang yang hatinya lalai.” (HR. Tirmidzi)

Keempat, mendulukan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum dia menyebutkan permintaannya, karena terdapat dalil As-Sunnah yang shahih mengenai hal ini.

Adab-adab berdoa meliputi:

Berdoa dalam kondisi suci, karena doa adalah dzikir. Dikisahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertayamum dengan (debu) tembok WC sebelum menjawab salam, lalu ia berkata, “Aku enggan berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Abu Dawud)

Mengangkat kedua tangan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Pemalu lagi Mahamulia. Ia malu dari hamba-hamba-Nya, apabila mereka mengangkat kedua tangan mereka kepada-Nya dan Dia menolaknya dengan tangan kosong.” (HR. Hakim, dishahihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apabila seorang dari kalian berdoa, maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam meminta, dan janganlah ia berkata, “Ya Allah, jika Engkau berkehendak maka berilah aku, sesungguhnya Ia tidak enggan kepadanya.”

Mencari lafazh-lafazh dzikir yang ma’tsur, terutama yang mengandung nama yang agung. Dalam Shahih Ibnu Hibban dari Abdulllah bin Buraidah Radhiyallahu Anhu dari bapaknya, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar seorang laki-laki berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada sesembahan selain-Mu, yang Maha Esa, tempat bergantung, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakan, dan tidak ada seorangpun yang menyamainya.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya ia telah meminta kepada Allah, dengan nama-Nya yang jika dimintai niscaya Ia akan memberi, dan jika diseru dengannya niscaya Ia akan mengabulkannya.”Dan disebutkan dalam sebuah lafazh, “Sungguh kamu telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang Agung.” (hadits shahih)

Terus-menerus berdoa bukan hanya saat terjadi musibah dan turun bencana. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa ingin Allah kabulkan permohonannya tatkala masa-masa sulit dan masa kesusahan, hendaklah ia memperbanyak doa dalam keadaan lapang.” (Tirmidzi dan Hakim, ia menshahihkannya)

Jamaah yang dimuliakan Allah...

Manakah doa-doa kita sebelum, ketika, dan setelah shalat? Manakah doa-doa kita di masyarakat, perkumpulan kita? Manakah doa-doa kita di saat sunyi, ketika menyendiri pada pertengahan malam, sebelum shalat fajar, dan di waktu-waktu terakhir dari pada akhir malam, tidak di saat musibah, tidak pula di waktu turun ujian saja, tetapi di setiap waktu? Lalu manakah doa orang-orang yang lalai seperti kita? Manakah orang-orang yang berdoa dengan merendahkan hati? Sesungguhnya keyakinan dalam berdoa itu akan muncul di saat keimanan di lubuk hati kokoh, ketika keshalihan dan keistiqamahan tampak baik, di saat tersembunyi dan terang-terangan. di saat itulah seorang yang berdoa yakin dengan ijabah (perkenan) dari Allah atas doanya.

di kalangan sahabat ada seorang masyhur yang doanya mustajab, sebagaimana kisah Sa’ad bin Abi Waqas dan said bin zaid, salah seorang dari sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga. Suatu ketika, seorang perempuan menuduhnya telah mengambil tanahnya dengan tuduhan palsu dan dusta, maka tatkala ditanya tentang hal itu, ia menjawab, bagaimana mungkin aku mengambilnya, sedang saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Barangsiapa mengambil sejengkal tanah tanpa haknya, maka ia akan dibebani pada Hari Kiamat dengan tujuh bumi berlapis.” Kemudian ia berkata, “Ya Allah, jika ia berkata dusta, maka butakanlah kedua matanya, dan jadikanlah liang kuburnya di dalam rumahnya, kemudian wanita itu buta, dan terjatuh dalam sumur miliknya, lalu meninggal.”

Ada lagi kisah Abu Mu’awiyah Al-Aswad Radhiyallahu Anhu saat menghadapi pasukan Romawi. Seorang kafir yang zhalim terhadap kaum Muslimin telah keluar dari barisan kelompoknya dan tertangkap. Lalu beberapa kaum Muslimin mendatangi Abu Mu’awiyah Al-Aswad dan mengatakan, “Orang ini melakukan ini dan itu. Karena itu doakanlah kejelekan untuknya.” Lalu Abu Mu’awiyah mengambil lembingnya lalu berdoa dan berkata,

وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى ))

الانفال:17))

“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar (Al-Anfal: 17). Lalu ia bertanya kepada para sahabat, “Bagian manakah yang kalian inginkan? Lalu mereka mengatakan, “Kemaluannya.” Maka ia pun melemparnya, dan tidak meleset dari tempat yang diinginkan oleh para sahabat. Maka dengan ini Allah telah membunuh musuhnya.

Sesungguhnya sebagian manusia menganggap berdoa tidak bermanfaat, dengan mengatakan, ”Kami telah berdoa namun Allah tidak mengabulkan doa kami.” Mereka tidak mengetahui jika mereka belum memenuhi persyaratan terkabulnya doa. Mereka juga telah mengotori hakikat doa itu sendiri dan mengotori terkabulnya doa di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan keyakinan dan keimanan yang lemah, di samping ia berpaling dari ketaatan dan terjerumus dalam kemaksiatan dan keburukan.”

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ ((إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا) [الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

(رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8]

(رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )[البقرة: 201]

عِبَادُ اللَّهِ (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )[النحل: 90]اِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ