Memaksimalkan Sepuluh Malam Terakhir Bulan Ramadhan

SIFAT

Taqwa adalah wasiat Allah Swt kepada ummat manusia dari dahulu hingga saat ini, ia merupakan inti dakwah para Nabi dan mahkota para wali-wali Allah Swt. Hakikat ketaqwaan adalah ketika seorang hamba membuat perisai yang menghalangi dirinya tersentuh oleh azab Allah Swt. Sehingga orang yang bertaqwa senantiasa menjalankan ketaatan, jauh dari kemaksiatan dan perbuatan haram, bersemangat melakukan kebaikan, kehidupan dunianya dipenuhi ketenangan dan kebahagiaan, dan diakherat ditinggikan derajatnya oleh Allah Swt.

Oleh: Ustadz Arif Fauzi

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ) [آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا) [النساء: 1]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 70 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا)[الأحزاب:70- 71]

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah yang dimulaikan Allah…

Saya berwasiat kepada kalian dan diri sendiri untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bertakwa kepada Allah adalah sesuatu yang paling mulia dari apa yang kita sembunyikan, dan seindah-indahnya perhiasan dari yang kita perlihatkan, dan harta benda yang paling mulia yang kalian simpan. Semoga Allah menolong kita untuk terus menjalankan ketakwaan dan semoga Allah mengaruniakan kepada kita pahalanya yang berlipat ganda.

Wahai kaum Muslimin, hari-hari telah meninggalkan kalian, malam-malam mulia telah berlalu dan menjadi saksi atas perbuatan yang telah kalian kerjakan, dan menjaga amalan yang telah kalian tinggalkan, sebagai penyimpan amal perbuatan kalian, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

(يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ)[آل عمران: 30]

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya) ” (Ali-Imran: 30)

Rabb kalian memanggil “Wahai hamba-hamba-Ku, tidak lain itu adalah amalan-amalan kalian, telah Aku hitung kemudian aku penuhi untuk kalian, maka barangsiapa yang mendapati kebaikan maka hendaklah ia memuji Allah, sedangkan barangsiapa mendapati tidak seperti yang diingikan, maka hendaklah ia tidak mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”

Ramadhan ini adalah bulan kalian, dan hari-hari ini merupakan penghujung bulan mulia. Berapa banyak orang menemuinya, namun ia tidak dapat memanfaatkannya. Dan berapa banyak orang yang berangan-angan untuk kembali, namun ia tidak dapat menyusulnya. Karenanya, tidakkah kalian perhatikan ajal dan tempat kembalinya, tidakkah kalian jelaskan segala tipuan yang terdapat dalam angan-angan dan pengandaian yang melalaikan?

Wahai saudara-saudaraku, meskipun dalam jiwa-jiwa ini terdapat penghalang, dan di dalam hati ini ada pemberi pelajaran yang baik. Maka ketahuilah, sungguh masih ada sepuluh hari tersisa dari bulan Ramadhan. Jika pada kedua puluh hari sebelumnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam masih menggabungkan antara shalat dan tidur. Pada sepuluh malam terakhir, beliau siap siaga, bersungguh-sungguh, dan mengencangkan sarungnya, menjauh dari tempat tidurnya, membangunkan keluarganya, dan mengetuk pintu untuk menemui Fatimah dan Ali Radhiyallahu Anhu sembari berkata, “Tidakkah kalian bangun lalu shalat? Ia mengetuk pintu sambil membacakan,

(وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى )[طه: 132]

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.Kami tidak meminta rezeki kepadamu, kamilah yang memberi rezeki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Thaha: 132) Lalu Rasulullah menuju kamar-kamar istri-istrinya sembari memerintahkan, “Bagunkanlah penghuni-penghuni kamar. Karena banyak orang yang berpakaian di dunia, namun ia telanjang pada Hari Kiamat.”

Ada di antara kaum Muslimin berkata, “Sesungguhnya shalat lail ini hukumnya sunnah, dan cukup bagi kami untuk menunaikan shalat-shalat yang wajib saja.” Memang benar hukumnya shalat lail adalah sunnah, sebagai pelengkap terhadap shalat fardhu. Akan tetapi, siapa yang mengetahui bahwa shalat–shalat yang Anda kerjakan telah sempurna dan lengkap?

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya, “Rabb Ta’ala berfirman, ’Lihatlah oleh kalian shalat-shalat hambaku, apakah ia menyempurnakannya atau menguranginya. Jika shalatnya sempurna maka akan ditulis dengan sempurna, namun jika dalam shalatnya terdapat kekurangan, (Allah) berfirman, “periksalah hambaku, apakah hambaku memiliki shalat sunnah yang ia kerjakan? Jika ia memiliki shalat sunnah, maka Ia berkata, ’Penuhilah kekurangan shalat wajibnya, kemudian amAl-amalan perbuatan yang lain juga disamakan.”

Di antara keutamaan menghidupkan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan ini adalah agar mendapatkan atau menemui lailatul qadar. Allah berfirman,

(لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ) [القدر: 3]

“Malam kemuliaan itu (lailatul qadar) lebih baik dari seribu bulan.” (Al-Qadar: 3)

An-Nakha’i berkata, “Amalan pada lailatul qadar lebih baik dari amalan selama seribu bulan selain Ramadhan. Seribu bulan itu setara dengan 83 tahun empat bulan. Amalan pada malam ini, bagi orang yang diberi taufik oleh Allah, lebih baik dari pada amalan di 83 tahun empat bulan. Disebutkan dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim) dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa shalat pada waktu lailatul qadar karena iman dan mengaharap rida Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Lailatul qadar adalah salah satu malam dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Menurut pendapat yang rajih (kuat) Allah merahasiakan lailatul qadar dengan tujuan agar setiap hamba bersungguh-sungguh dalam mencari, mengisinya dengan shalat, dzikir, dan doa. Sehingga, merekapun menjadi lebih dekat kepada Allah.

Lailatul qadar memiliki tanda-tanda yang dapat diketahui. Pendapat yang shahih mengenai tanda tersebut adalah matahari terbit pada pagi harinya begitu cerah dan tidak menyilaukan. Disebutkan dalam Shahih Muslim, dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Dan tanda lailatul qadar adalah matahari terbit pada pagi haringya dengan cerah dan tidak menyilaukan.”

Beberapa hadits menyebutkan bahwa lailatul qadar kadang dapat diketahui melalui mimpi yang benar. Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari jalur Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, beberapa sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi tentang lailatul qadar pada tujuh malam yang terakhir. Maka Rasulullah bersabda,”Aku melihat bahwa mimpi kalian (tentang lailatul qadar) bertepatan pada tujuh malam terakhir. Maka barangsiapa yang ingin mencarinya maka carilah pada tujuh malam terakhir.”

Hadits lain menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku telah diperlihatkan lailatul qadar, kemudian malam itu dilupakan atasku. Maka carilah malam itu pada sepuluh malam terakhir. Dan sungguh, aku bermimpi sujud di atas air dan tanah.” Abu Sa’id berkata, “Maka akupun melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersujud di atas air dan dan tanah hingga aku melihat bekas debu di keningnya.”

Maka sudah seharusnya bagi setiap Muslim untuk lebih giat beribadah di sepuluh hari terakhirdengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir dan amalan sunnah lainnya, termasuk i’tikaf di masjid untuk memfokuskan diri beribadah dan mempererat hubungan kepada-Nya. Mari kita renungi perkataan Dawud Ath-Tha’i tentang malam ini,

“Keinginan untuk mendapatkanmu telah menghilangkan segala kegundahan,

Memisahkanku dari tempat tidurku

dan kerinduan ku untuk melihatmu lebih kuat dari segala kenikmatan, dan

menghalangiku dari segala syahwat.”

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ

الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jum’at yang berbahagia ….

Adapun keutamaan beri’tikaf bahwa pada sepuluh malam terakhir itu ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu lebih baik dari 83 tahun yang tidak terdapat lailatul qadar padannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beri’tikaf di malam tersebut dengan harapan bisa mendapatkan malam itu. Bahkan, beliau beri’tikaf pada sepuluh hari pertama, kemudian beri’tikaf pada sepuluh hari kedua. Beliau mengangkat kepalanya untuk berbicara di hadapan manusia, lalu merekapun mendekatinya. Beliau bersabda,”Sungguh aku pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama, karena aku sangat berharap bisa mendapatkan malam itu, kemudian aku beri’tikaf pada sepuluh hari kedua, kemudian Jibril datang kepadaku dan mengatakan,

إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ

“Sesungguhnya malam itu ada pada sepuluh hari yang terakhir. Barangsiapa di antara kalian hendak beri’tikaf, maka beri’tikaflah.” (HR. Muslim)

Orang yang beri’tikaf berarti ia telah mencontoh amalan Rasulullah yang tidak pernah meninggalkan i’tikaf.

Beberapa aturan ketika beri’tikaf , Di antaranya mengikhlaskan niat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memasuki tempat i’tikaf sebelum terbenamnya matahari, memilih masjid jami’ sebagai tempat i’tikaf, membuat bilik khusus baginya, tidak dibenarkan berpindah-pindah tempat dan tidak keluar masjid kecuali karena udzur syar’i.

Jamaah Jum’at yang berbahagia..

Sangat disayangkan, mayoritas kaum Muslimin dewasa ini hanya bersemangat di awal bulan Ramadhan saja, namun tatkala datang waktu yang seharusnya bersungguh-sungguh, ia meninggakan shalat malam, dan menghabiskan malamnya dengan perkara yang sia-sia, bersendau gurau, dan bermaksiat kepada Allah. Ia futur, lemah semangat, bahkan berpaling dari anugrah Dzat yang Maha Pemurah dan Maha Pemberi Karunia.

Wahai orang yang lalai, sadarlah! Wahai para penegak sunnah, bangunlah! Demi Allah, Anda tertipu dan terjebak dalam keburukan, ketika Anda tahu ibadah pada lailatul qadar itu lebih baik dari pada ibadah selama 83 tahun, namun justru Anda tidak mengisinya dengan ibadah kepada Rabb? Bersujudlah kepada Allah, semoga Dia menerima ibadahmu, dan Allah hanya menerima ibadah dari orang-orang yang bertakwa.

Wahai orang-orang yang memulai bulan Ramadhan dengan penuh semangat dan bertekad untuk menjaganya sampai akhir bulan, waspadalah! Janganlah tertipu dengan apa yang kalian lakukan! Jadilah seperti apa yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,

(كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ 17 وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ)[الذاريات:17- 18]

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar.” Adz-dzariyat (17-18)

Mereka tidak beristighfar melainkan karena mereka merasa bersalah kepada Allah, padahal shalat malamnya dilakukan dengan begitu sering.

Wahai kekasih-kekasih Allah, perbanyaklah istighfar dan memohon ampun kepada Allah di malam-malam terakhir bulan ramadán ini. Jadilah kalian orang yang komitmen menjalankan Ramadhan seperti hadits yang diriwayatkan Aisyah istri Nabi. Beliau pernah bertanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jika aku mendapati lailatul qadar apa yang harus aku ucapkan?” Beliau bersabda, “katakanlah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Dzat pemberi maaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah(kesalahan-kesalahan) ku.”

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ (إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

(رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8]

(رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ )[البقرة: 201]

عِبَادُ اللَّهِ (إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ )[النحل: 90]

اِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ