Menjauhi Perbuatan Bid’ah

SIFAT

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah menjadi waktu-waktu yang paling mulia disisi Allah Swt. Ia adalah hari-hari yang penuh berkah, hitungan pahala diperbanyak dan hitungan keburukan diperkecil, derajat ditinggikan dan ketaatan yang beraneka ragam. Karena kemuliaannya, sampai-sampai Allah Swt bersumpah dengannya yang sekaligus menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut.

Oleh: Ustadz Arif Fauzi

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ )

[آل عمران: 102]

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا )[النساء: 1]

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا 71 يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ) [الأحزاب: 70-71]

أَلافَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Jamaah shalat Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian mendapat rahmat. Berbekallah dengan amal keshalihan agar beruntung. Bersegaralah melaksanakan amAl-amal shalih, dan jangan tergoda dengan rayuan kehidupan dunia niscaya kalian akan mendapatkan keridhaan dan kecintaan dari sang pencipta.

Sesungguhnya Allah Ta’ala mengutus Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di saat kesesatan merajalela dan kezaliman menggurita, dan krisis moral melanda pada masa jahiliyah. Mereka tidak tahu kebenaran, bentuk, ukuran dan juga pembagiannya. Maka risalah Nabi Muhammad bertujuan mengeluarkan manusia dari kekangan nafsu dan taklid kepada nenek moyang mereka.

Ketika Nabi berdiri di hadapan orang-orang sebagai pemberi kabar baik, pemberi peringatan, dai, dan pelita yang memberi cahaya, orang-orang celaka menentang dan menghadang dakwahnya. Tetapi Allah meninggikan kalimat-Nya, dan memenangkan agama-Nya. Rasulullah tidak meninggal kecuali beliau telah menjalankan amanah, menasihati umat, dan menyempurnakan agama di atas tujuan yang suci. Malamnya seperti siangnya. Tidaklah orang menyimpang dari jalannya kecuali mereka termasuk orang-orang sesat lagi celaka.

Selang beberapa tahun, muncullah kaum rasionalis yang diimami oleh kaum mu’tazilah. Kaum sufi pun makin berkembang, khawarij lahir, tak ketinggalan kaum murji’ah. Kemudian terjadilah perpecahan. Sebagian orang menyimpang dari sunnah, mereka terjeremus dalam kesesatan. Karena mereka meninggalkan sunnah dan mewabahnya penyakit kebodohan, mengikuti hawa nafsu, berhukum dengan akal, taklid kepada nenek moyang, menolak kebenaran. Padahal kunci keselamatan hanya pada keistiqamahan terhadap sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Firman Allah Ta’ala,

(قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ)

[آل عمران: 31]

“Katakanlah, Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali-Imran: 31)

Dalam ayat lain Allah berfirman yang artinya: “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka) dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun.” (Al-Qashash: 50)

Orang-orang yang mengikuti hawa nafsu adalah para penentang sunnah yang akan mendapatkan kehidupan sempit dan azab yang pedih di akhirat kelak. Firman Allah Ta’ala, yang artinya: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)

Inilah keadaan ahli bi’dah. Mereka akan mendapati kehidupan yang sempit, tidak ada kelapangan dan ketenangan di dalam dada mereka, amalan mereka pun akan tertolak. Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Siapa yang berbuat sesuatu yang baru, yang tidak ada dalam perkara kami, maka hal itu akan tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jabir Radhiyallahu ‘Anhu menggambarkan bahwa, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berkhutbah, matanya memerah, suaranya meninggi, marahnya makin bertambah. Beliau seperti panglima perang yang memperingatkan tentaranya, bahwa musuh akan datang di waktu pagi dan sore (bersiap-siaplah)” beliau bersabda, “Jarak aku diutus dengan Hari Kiamat adalah seperti ini (beliau merapatkan telunjuk dan jari tengahnya). Beliau bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan seburuk-buruk perkara adalah menambah-nambah dengan hal yang baru, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.” (HR. Muslim, Ibnu Majah dan yang lain)

Bahkan dalam hadits lain Rasulullah menegaskan bahwa orang-orang yang berani mengingkari sunnahnya bukan umat Muhammad Shallallahu ‘ alaihi wasallam, Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى

“Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim)

Ancaman lain bagi mereka yang tidak tunduk kepada sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah memberi penghalang taubat dari setiap orang yang melakukan bid’ah sampai dia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Thabarani dengan sanad yang baik)

Jamaah Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah!…

Mengikuti dan berpegang teguh kepada sunnah merupakan konsekuensi dari syahadat Rasul, yaitu mentaati perintahnya, membenarkan setiap berita yang beliau sampaikan, menjauhi larangan, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan cara yang disyariatkan. Kita dilarang mendekatkan diri kepada Allah dengan ajaran yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika kita melakukan itu, amalan kita akan tertolak.

Karena itu, kita dilarang mengikuti perkataan-perkataan yang menyimpang dari sunnah. Setiap orang perkataannya bisa diterima dan ditolak kecuali perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Disampaikan oleh Imam Malik Rahimahullah, Imam Syafi’i berkata, “Ulama telah besepakat bahwa siapa yang jelas baginya sunnah Rasulullah, maka dia tidak boleh meninggalkannya karena mengikuti perkataan orang lain.”

Imam Ahmad berkata, “Saya heran terhadap kaum yang mengetahui sanad dan membenarkannya, tetapi malah pergi kepada pendapat Tsufyan As-Tsauri. Padahal Allah berfirman yang artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (An-Nur: 63)

Islam adalah sebuah bentuk penyerahan diri secara totalitas kepada Allah termasuk hukum dan syariatnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata. (Al-Ahzab: 36)

Ibnu Mubarak meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu Anhu bahwa dia berkata, “Pegang teguhlah jalan dan sunnah. Tidaklah seorang hamba di atas permukaan bumi ini berada di jalan ini dan di atas sunnah, kemudian disebutkan nama Allah, hingga keluar air matanya karena takut kepada Allah lalu Allah mengazabnya. Dan tidaklah seorang hamba berada berdzikir kepada Allah di dalam jiwanya, bergetar kulitnya karena takut kepada Allah, kecuali Allah hapus kesalahannya, seperti jatuhnya dedaunan kering yang ditiup angin kencang. Sesungguhnya, istiqamah di atas jalan dan sunnah ini lebih baik dari ijtihad yang keluar dari sunnah.”

Zaujani berkata, “di antara tanda kebahagiaan seorang hamba adalah mudahnya dia melakukan ketaatan, ketundukannya dengan sunnah, baik perkataan maupun perbuatan. Dia berteman dengan orang-orang baik, mencurahkan pengetahuan dan perhatiannya kepada orang lain serta mampu menjaga waktunya.” Ulama lain mengatakan: “Siapa yang mempercayakan sunnah dalam dirinya, baik perkataan maupun perbuatan, maka dia akan berkata dengan hikmah. dan, siapa yang mempercayakan hawa nafsu atas dirinya, maka dia akan berkata dengan perkataan yang bid’ah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menamakan bid’ah sebagai kesesatan, karena ahli bid’ah tersesat dengan mengikuti hawa nafsunya. Mereka mengambil dalil-dalil yang memiliki kemiripan sebagai celah untuk berhujjah. Mereka tidak memiliki ketundukan kepada hukum-hukum Allah. Mereka menjadikan hawa nafsu sebagai imam sedang dalil baik ayat maupun sunnah sebagai makmum yang harus menyesuaikan diri dengan kehendak imam. Allah berifman, “Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi oleh-Nya petunjuk.”(Al-Baqarah: 26)

Jamaah Jum’at yang berbahagia ….

Tidak ada pendapat seorangpun yang wajib diikuti selain sunnah Rasulullah. Dalam hadits shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan, yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu akan tertolak.”

Dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Barangsiapa yang mengadakan suatu pendapat yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan tidak pula dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia tidak tahu bagaimana keadaan dia ketika bertemu dengan Allah Ta’ala.”

Imam Syathibi Rahimahullah berkata, “Kehinaan di dunia akan ditimpakan kepada ahli bid’ah dan begitu juga dengan kemurkaan-Nya.”

Ibnu Majisyun menukil perkataan Imam Malik Rahimahullah berkata, “Siapa yang membuat bid’ah dalam Islam, lalu menganggapnya baik, maka dia telah menuduh bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkhianat terhadap risalahnya, karena Allah berfirman yang artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu.” (Al-Maidah: 3)

Bahaya bid’ah lain disebutkan dalam Shahih Muslim,Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberi kabar bahwa orang-orang yang mengganti atau mengubah (sunnahnya), maka dia dihalangi dan diusir dari ‘telaga Rasulullah’. Selain itu bid’ah yang dimunculkan akan menghapus satu sunnah di antara sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita bisa melihat sendiri ada sebagian orang-orang semangat dalam kebid’ahannya dan meninggalkan sunnah-sunnah yang diajarkan. Bahkan mereka menyalahi yang wajib, sebagaimana kita lihat aktivitas sebagian mereka di radio-radio dan media dalam menyebarkan kebid’ahan. Mereka memberikan kesan memukau dengan rituAl-ritual sehingga banyak orang yang tertipu, dan menganggapnya sebagai bagian dari Islam. Apalagi, jika yang ikut berpartisipasi di dalamnya adalah orang-orang yang berilmu dan cendekiawan. Maka bertakwalah kepada Allah wahai orang yang menjadi panutan sehingga tidak ada fitnah yang menimpa kaum mukimin.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِـرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَـائِرِ الْـمُسْلِـمِـينَ مِنْ كُـلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِـرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِـيمُ

الحَمْدُ للهِ عَلى إحسَانِهِ ، والشُّكرُ لَهُ عَلَى تَوفِيقِهِ وامتِنَانِهِ ، وأشهدُ أنْ لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ تعظِيماً لِشَأنِهِ ، وأشهدُ أنَّ مُحمَداً عبدُهُ ورسولُهُ الدَّاعِي إلى رضوانِهِ. اللهم فَصَلِّ وَسَلِّم علَىَ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَن تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْم الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ.

Sesungguhnya sebab yang membuat orang tergelincir ke dalam bid’ah adalah karena taklid kepada nenek moyang, para tokoh, dan ta’ashub (fanatik) kepada orang yang mereka ikuti.

Abu Dawud dan perawi lain menyebutkan dengan sanad shahih, bahwa Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu berkata, “Janganlah kalian berbuat bid’ah, karena sesuatu yang dibuat-buat adalah sesat. Aku mengingatkan kalian dari penyimpangan ahli hikmah, karena syetan kadang memasukkan kata-kata sesat ke dalam perkataan ahli hikmah. Maka jauhilah perkatan ahli hikmah yang samar, karena kadang orang munafik juga mengatakan kebenaran. Aku berkata, “Bagaimana aku bisa mengetahui bahwa ahli hikmah itu mengatakan kesesatan?” Dia berkata, ‘Jauhilah perkataan ahli bid’ah yang samar, terimalah kebenaran jika kamu mendengarnya. Karena di atas kebenaran itu adalah cahaya.”

Dari Muqatil bin Hayyan Rahimahullah berkata, “Mereka para pengikut hawa nafsu adalah bencana bagi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, (karena) mereka membawa-bawa nama Nabi dan keluarganya. Mereka memakai senjata ini di hadapan orang-orang awam, sehingga mereka ditimpakan kebinasaan. Lalu Apa bedanya kondisi mereka dengan orang yang meminum racun, tapi dengan nama madu?”

Di antara hujjah yang telah lama mereka gunakan sejak dulu hingga zaman modern telah digambarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perdebatan Ibrahim dengan kaumnya seraya berkata, ”Apakah yang kamu sembah? Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.” Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)? atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?’ Mereka menjawab, ‘(Bukan Karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” (Asy-Syua’ara: 70-74)

Maka bertakwalah kepada Allah wahai kaum Muslimin, dan ikutilah apa yang Allah turunkan kepada kalian. Janganlah mengambil selain Dia sebagai pemimpin. Ketahuilah bahwa menyalahi sunnah secara lahir merupakan pertanda riya’ seseorang dalam batinnya.

Dampak negatif perbuatan bid’ah adalah:

Bid’ah menjauhkan orang dari agama yang benar dan menggeser posisi sunnah. Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Tidaklah suatu kaum berbuat bid’ah kecuali Allah akan mencabut sebagian sunnah dari mereka.”

Orang yang melakukan bid’ah menuduh bahwa agama Islam ini belum sempurna. Karenanya, dia menambah kebid’ahan ke dalam agama. Kalau tidak, niscaya mereka beranggapan bahwa agama ini telah sempurna, sehingga tidak membutuhkan tambahan.

Orang yang melakukan bid’ah tidak mau melakukan sunnah-sunnah, semangat mereka hilang untuk melakukan amalan sesuai dengan petunjuk sunnah, tetapi mereka rajin dan giat dalam melaksanakan bid’ah. Kita akan menemukan mereka itu menafkahkan harta, mengorbankan tubuh-tubuh mereka, menghabiskan waktu mereka demi menghidup-hidupkan bid’ah.

Sesungguhnya bid’ah mengembalikan manusia ke dalam kejahiliyahan, sehingga mereka menjadi pewaris perpecahan dan perbedaan. Berbeda dengan sunnah yang akan menjadi penyatu hati sesama manusia, menjadikan bersaudara, saling mengasihi di atas manhaj, jalan yang sama, dan agama yang satu, sebagaimana firman Allah,

(وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ) [آل عمران: 103]

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (Ali Imran: 103)

Bid’ah mewariskan sifat sombong dan penolakan terhadap kebenaran. Ahli bid’ah apabila diajak kepada kebenaran, mereka akan menolak kebenaran itu dan justru akan membela bid’ahnya.

Bid’ah akan merusak agama yang benar. inilah yang diinginkan oleh syetan, jin dan manusia yang kafir dan munafik. Musuh Islam akan selalu berusaha merusak agama ini dengan berbagai macam cara dan senjata yang paling ampuh, yaitu dengan menggunakan bid’ah dan khurafat. Sehingga orang yang tidak mengenal Islam akan mengira bahwa Islam itu adalah kumpulan dari khurafat. Mereka yang mau masuk ke dalam Islam justru menjauh dari Islam.

Media cetak seperti radio, surat kabar, mempunyai peran yang sangat besar dalam menyebarkan bid’ah. Bid’ah disebarkan ke seluruh penjuru pelosok dengan kesan menarik. Dan orang-orang yang mendengar atau membaca akan tertipu sehingga mereka menyangka itu adalah ajaran Islam.

Ulama yang jahat (ulama su’) juga punya peran yang lebih besar lagi dalam menghidupkan bid’ah dan menyebarkannya dengan memakai baju syariat. Maka hendaklah para ulama dan khatib memberi peringatan terhadap manusia dalam hal ini.

Wahai Hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa segala sesuatu yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan harta yang berharga bagi kaum Muslimin dan mengandung keberkahan yang melimpah. Tinggalkanlah segala amalan bid’ah yang tidak berlandaskan dalil shahih. Cukuplah bagi kalian apa yang telah diajarkan Nabi dan yang dilakukan generasi terdahulu dari umat ini.

Semoga Allah memberkati kita semua melalui Al-Qur’an dan sunnah ini, memberi manfaat kepada kita melalui ayat-ayat dan hikmah yang ada di dalamnya. Inilah yang bisa khatib sampaikan dan khatib memohon ampunan kepada Allah untukku dan kita semua.

فَاِعْلَمُوا أَنْ اللهَ أَمرَّكُمْ بأمر بَدَأَ فِيه بِنَفْسُه وَثَنَى بِمَلاَئِكَتِهُ الْمَسْبَحَةَ بِقُدُسِهُ وَثُلْثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ فَقَالَ عِزِّ مِنْ قَائِلِ

(إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا )[الأحزاب: 56]

اللَّهُمُّ صِلِّ وَسَلْمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدَ وَعَلَى آله وَصحابَتَهُ وَمِنْ اِهْتَدَى بِهُديِهُ واستن بِسَنَتِهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ .ثَمَّ اللَّهُمُّ اُرْضُ عَنْ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ أَبِي بَكَرَ وَعَمَرَ وعثمان وَعَلَيِي وَعَلَى بَقِيَّةَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعَ التَّابِعِينَ وَعَلَينَا مَعَهُمْ بِرَحِمَتِكَ يا أَرحمَ الرَّحِمِينَ .

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ بِكُلَّ اِسْمَ هَوْلِكَ سَمَّيْتُ بِهِ نَفْسُكِ أَوَأَنْزَلَتْهُ فِي كُتَّابِكَ أَوْ عُلْمَتَهُ أَحَّدَا مِنْ خُلُقِكَ أواستأثرتبه فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكِ أَنْ تَجْعَلَ القرآن رَبِيعَ قُلُوبِنَا وَنُورَ صُدُورِنَا وجلاءَ أحزاننا وَذَهَابَ همومنا وَغُمُومَنَا

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ والمؤمين وَالْمُؤَمَّنَاتِ الأحياء مِنْهُمْ والأموات .

اللَّهُمُّ أَعَزَّ الإسلام وَالْمُسَلَّمَيْنِ وَأُهِلُّكَ الْكَفَرَةَ والمشركين وَدَمَّرَ أَعَدَّاءَكَ أَعَدَّاءَ الدِّينِ

اللَّهُمُّ أَصلحَ لَنَا دَيِّنَنَا الَّذِي هوعصمة أَمرَّنَا ، وَأَصْلَحَ لَنَا دنياَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشَنَا وَأَصْلَحَ لَنَا آخرتنا الَّتِي إِلَيهَا مُعَادَنَا وَاِجْعَلْ اللَّهُمُّ حَيَّاتِنَا زِيادَةَ لَنَا فِي كُلَّ خَيِّرَ وَاِجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةَ لَنَا مِنْ كُلَّ شَرَّ

اللَّهُمُّ أَعَنَّا عَلَى ذَكَرِكَ وَشكرَكَ وَحَسَنَ عِبَادَتِكَ

اللَّهُمُّ إنا نَسْأَلُكَ الْهُدى وَاِلْتَقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنى وَحَسَنَ الْخَاتِمَةِ

اللَّهُمُّ اِغْفِرْ لَنَا واوالدينا وَاِرْحَمْهُمْ كَمَا رَبْوَنَا صغارَا

( رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا )[الفرقان: 74]

(رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ )[آل عمران: 8]

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ [البقرة: 201]

عِبَادُ اللَّهِ (إنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ ) [النحل: 90]

اِذَّكَرُوا اللَّه الْعَظِيمَ يَذَّكِرُكُمْ وَاِسْأَلُوهُ مِنْ فُضُلِهُ يُعْطَكُمْ وَلِذَكَرِ اللهُ أَكبرِ وَاللهَ يُعْلِمُ مَا تُصَنِّعُونَ